Jelang Hari Tuli Sedunia: Penyandang Tunarungu Perlu Edukasi Kesehatan

Kompas.com - 09/09/2018, 17:35 WIB
Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia, melaksanakan kegiatan Sosialisasi Hipertensi dan Diabetes Mellitus bagi Penyandang Tunarungu, Sabtu (08/09/2018), di Depok. Sekaligus menyambut Hari Tuli Sedunia, Senin (23/09/2018), mereka menyuguhkan edukasi kesehatan melalui sebuah video. Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia, melaksanakan kegiatan Sosialisasi Hipertensi dan Diabetes Mellitus bagi Penyandang Tunarungu, Sabtu (08/09/2018), di Depok. Sekaligus menyambut Hari Tuli Sedunia, Senin (23/09/2018), mereka menyuguhkan edukasi kesehatan melalui sebuah video.

"Sehingga mereka (penyandang tunarungu) lebih memahami apa saja yang seharusnya dilakukan untuk mencegah diabetes dan hipertensi. Pemeran dalam video ini tentu saja juga penyandang tunarungu dan dipandu dari Pusbisindo sebagai naratornya,” sambungnya.

Sebelumnya, Shanti dan timnya dari Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia hanya terfokus pada penanganan penyakit kronik pada dewasa yang tidak memilki kebutuhan khusus.

Sehingga ini merupakan kegiatan pendobrak yang akan dikerjasamakan dengan antar-departemen di Fakultas Ilmu Keperawatan.

Rencananya, video edukasi ini akan dilakukan penyempurnaan dengan melakukan evaluasi yang masukannya akan diberikan oleh penyandang sendiri.

Jika dirasa sudah cukup baik, Shanti berencana untuk menyebarluaskan video ini dan menambah konten kesehatan lain yang lebih variatif.

“Kelanjutan dari kegiatan ini, sebagai program tahap sosialisasi, akan ada kegiatan pada saat Hari Tuli Sedunia 23 september nanti, kita akan membuka stand di Kementerian Komunikasi dan Informasi dan menampilkan video ini, serta melakukan pemeriksaan kesehatan bagi penyandang tunarungu,” ujar Shanti.

Baca juga: Awas, Kebiasaan Dengar Musik Kencang Pakai Earphone Bikin Tuli

Shanti yang berasal dari Departemen Keperawatan Dasar, Universitas Indonesia, berencana bekerja sama dengan seluruh departemen lain di dalam fakultas, terutama pada departemen keperawatan jiwa.

“Untuk mental health, tentu saja, karena masyarakat tunarungu ini sulit untuk mengekspresikan perasaannya, sehingga pendekatan untuk pencegahan terjadinya stres, cemas, marah sampai terjadinya depresi, bisa kita kerjasamakan dengan departemen keperawatan jiwa,” jelas Shanti.

“Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan ini dapat menjadi gagasan baru, memberikan gambaran bagi masyarakat bahwa mereka juga membutuhkan pendidikan kesehatan. Ini adalah langkah awal, mungkin ada kelanjutannya nanti sebagai suatu bentuk kasih sayang kita terhadap mereka,” pungkasnya.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X