Kompas.com - 05/09/2018, 19:31 WIB

KOMPAS.com - Bagaimana rupa Bumi 100 tahun ke depan? Para ahli memprediksi, Bumi akan berubah menjadi dunia asing yang tak bisa dikenali dalam kurun waktu tersebut.

Hal tersebut dinyatakan para ilmuwan setelah melihat lebih dari 500 catatan iklim kuno.

Dari sana, mereka menyimpulkan perubahan iklim saat ini sebanding dengan apa yang dilalui Bumi ketika zaman es terakhir.

Selain itu, pergeseran seismik dalam keanekaragaman hayati yang terjadi kemungkinan juga akan terjadi kembali.

Untuk diketahui, pada akhir Zaman Es Terakhir, planet rumah kita ini memanas antara empat hingga tujuh derajat Celcius lebih tinggi. Hal itu membuat lapisan es yang menutupi sebagian besar Amerika Utara, Asia, dan Eropa Utara mencair.

Selama 10.000 tahun kemudian, ekosistem yang sama sekali baru muncul dan berkembang menjadi apa yang kita lihat sekarang.

Dalam skenario lain, para ilmuwan memprediksi jika emisi gas rumah kaca berlanjut maka planet kita akan menghangat sekitar 4 derajat Celcius pada 2100.

Prediksi tersebut kemudian diterbitkan dalam jurnal Science.

Tim peneliti internasional itu melihat ratusan catatan paleontologis tentang bagaimana ekosistem terestrial menanggapi perubahan iklim sekitar 20.000 tahun lalu.

Penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana Bumi menyesuaikan diri dengan pemanasan serupa yang terjadi 100 hingga 150 tahun mendatang.

Hasilnya, mereka menemukan jika tidak ada pengurangan besar dalam emisi gas rumah kaca, ekosistem terestrial di seluruh dunia berisiko terjadi "transformasi besar".

Baca juga: NASA Rilis Peta yang Soroti Jumlah Kebakaran Hutan di Bumi

"Vegetasi darat di seluruh planet berada pada risiko besar perubahan komposisi dan struktural utama dalam ketiadaan emisi (gas rumah kaca) yang sangat berkurang," tulis para peneliti dikutip dari Newsweek, Senin (03/04/2018).

"Sebagian besar perubahan ini dapat terjadi selama abad ke-21, terutama di mana gangguan vegetasi dipercepat atau diperkuat oleh dampak manusia," sambungnya.

Mereka juga menegaskan bahwa banyak ekosistem baru yang muncul. Namun, dampak buruknya adalah banyak pula ekosistem yang hilang.

Jonathan Overpeck, co-author penelitian ini mengatakan bahwa akan ada efek pantulan besar yang pada akhirnya mengancam keamanan air dan pangan.

"Jika kita membiarkan perubahan iklim tidak terkendali, vegetasi planet ini akan terlihat benar-benar berbeda dari sekarang. Itu berarti ada risiko besar bagi keragaman planet ini," kata Overpeck.

"Studi kami mengingatkan kembali bahwa kita perlu bertindak sekarang untuk bergerak cepat menuju ekonomi global bebas emisi," tegas peneliti dari University of Michigan itu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Newsweek
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.