Ilmuwan Temukan Ternyata Burung dapat Melihat Medan Magnetik Bumi

Kompas.com - 03/09/2018, 20:33 WIB
Burung pipit zebra Niagara Falls Aviary/WikipediaBurung pipit zebra

KOMPAS.com – Asumsi sebelumnya, sistem navigasi burung ada karena di dalam tubuh burung terdapat magnet yang dapat digunakan sebagai kompas. Kompas ini diduga membantu burung agar tidak tersasar ketika melakukan migrasi.

Namun, teori tersebut sedang diperbarui. Dilansir dari Science Alert, Sabtu (01/09/2018), para ilmuwan berkata bahwa pada mata burung terdapat protein yang memberi mereka kemampuan untuk melihat medan magnetik Bumi.

Protein mata ini disebut Cry4, yang merupakan bagian dari kelas protein yang disebut cryptochromes. Crytochromes sendiri adalah fotoreseptor yang sensitif terhadap cahaya biru, yang ditemukan pada tumbuhan dan hewan.

Namun, ada juga bukti dalam beberapa tahun terakhir yang mengatakan bahwa pada burung, cryptochromes di mata mereka membuat mereka mampu untuk menyesuaikan diri dengan mendeteksi medan magnetik, yang disebut magnetoreception.

Baca juga: Seperti Manusia, Burung Makaw Biru-Kuning akan Tersipu Saat Senang

Untuk menemukan bukti tambahan tentang kegunaan cryptochromes, dua tim ahli biologi dari Jerman dan Swedia melakukan penelitian lebih lanjut dengan burung yang berbeda.

Para peneliti dari Universitas Lund di Swedia mempelajari burung pipit zebra, dan para peneliti dari Universitas Carl von Ossietzky di Jerman mempelajari burung robin eropa.

Tim dari Universitas Lund mengukur ekspresi gen dari tiga cryptochromes, Cry1, Cry2 dan Cry4, yang terdapat pada otak, otot, dan mata burung pipit zebra. Hipotesis mereka adalah cryptochromes yang terkait dengan magnetoreception terus bekerja mengikuti ritme sirkadian (jam biologis pada makhluk hidup).

Mereka menemukan waktu sirkadian untuk gen Cry1 dan Cry2 fluktuatif atau tidak menentu setiap harinya. Akan tetapi, Cry 4 diekspresikan secara konstan, menjadikannya kandidat yang paling mungkin untuk memiliki keterkaitan dengan magnetoreception.

Temuan ini juga didukung oleh bukti yang ditemukan oleh tim dari Jerman.

Baca juga: Burung Julang, Satwa Endemik Sulawesi yang Populasinya Terus Berkurang

"Kami juga menemukan bahwa mRNA Cry1a, Cry1b, dan Cry2 menampilkan pola osilasi sirkadian yang kuat, sedangkan Cry4 hanya menunjukkan osilasi sirkadian yang lemah," tulis para peneliti.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mengenal 2 Ilmuwan Peraih L'Oreal-UNESCO for Women in Science 2020

Mengenal 2 Ilmuwan Peraih L'Oreal-UNESCO for Women in Science 2020

Kita
Data Uji Klinis 1 Bulan Tunjukkan Vaksin Covid-19 Sinovac 'Aman'

Data Uji Klinis 1 Bulan Tunjukkan Vaksin Covid-19 Sinovac "Aman"

Fenomena
BMKG: Waspada Potensi Cuaca Ekstrem 2 Hari Ini, Berikut Daftar Wilayahnya

BMKG: Waspada Potensi Cuaca Ekstrem 2 Hari Ini, Berikut Daftar Wilayahnya

Fenomena
Kasus Covid-19 Global Tembus 60 Juta, Bagaimana Islandia Kendalikan Virus Corona dengan Sains?

Kasus Covid-19 Global Tembus 60 Juta, Bagaimana Islandia Kendalikan Virus Corona dengan Sains?

Fenomena
Jaga Imunitas, 5 Suplemen dan Vitamin untuk Ibu Hamil di Masa Covid-19

Jaga Imunitas, 5 Suplemen dan Vitamin untuk Ibu Hamil di Masa Covid-19

Oh Begitu
2 Buku Teori Evolusi Charles Darwin Hilang dari Perpustakaan Cambridge

2 Buku Teori Evolusi Charles Darwin Hilang dari Perpustakaan Cambridge

Oh Begitu
Langka, Ahli Temukan Burung Era Dinosaurus dengan Paruh Mirip Sabit

Langka, Ahli Temukan Burung Era Dinosaurus dengan Paruh Mirip Sabit

Oh Begitu
Jokowi Minta Libur Akhir Tahun Dikurangi, Epidemiolog Sarankan Ini

Jokowi Minta Libur Akhir Tahun Dikurangi, Epidemiolog Sarankan Ini

Oh Begitu
Evolusi Virus Bisa Gagalkan Vaksin Covid-19, Ini Cara Menghentikannya

Evolusi Virus Bisa Gagalkan Vaksin Covid-19, Ini Cara Menghentikannya

Oh Begitu
Masih Sepupu Manusia, Ditemukan Kerangka Manusia Purba Berusia 2 Juta Tahun

Masih Sepupu Manusia, Ditemukan Kerangka Manusia Purba Berusia 2 Juta Tahun

Fenomena
Gejala Kanker Mulut Mirip Sariawan, Begini Cara Mencegahnya

Gejala Kanker Mulut Mirip Sariawan, Begini Cara Mencegahnya

Kita
Lonjakan Kasus Covid-19 Diprediksi Tinggi, Ini Strategi Hadapi Rumah Sakit Penuh

Lonjakan Kasus Covid-19 Diprediksi Tinggi, Ini Strategi Hadapi Rumah Sakit Penuh

Oh Begitu
Mitos atau Fakta: Seledri Tingkatkan Kesehatan Seksual Pria

Mitos atau Fakta: Seledri Tingkatkan Kesehatan Seksual Pria

Kita
Studi Baru: Mutasi Tak Membuat Virus Corona Menyebar Lebih Cepat

Studi Baru: Mutasi Tak Membuat Virus Corona Menyebar Lebih Cepat

Oh Begitu
Kenali Gejala Infeksi Menular Seksual, dari Gatal hingga Muncul Tumor

Kenali Gejala Infeksi Menular Seksual, dari Gatal hingga Muncul Tumor

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X