Ahli Jepang Sebut Kita Tinggal di Galaksi "Zombie"

Kompas.com - 24/08/2018, 11:44 WIB
Milky Way atau Galaksi Bima Sakti Yoga Hastyadi Widiartanto/Kompas.comMilky Way atau Galaksi Bima Sakti


KOMPAS.com - Dalam Milky Way atau Bima Sakti, kumpulan bintang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama kaya akan unsur "alfa" seperti oksigen, magnesium, dan silikon, sementara kelompok kedua lebih banyak mengandung zat besi.

Alasan yang melatarbelakangi perbedaan dua kelompok bintang itu telah lama menjadi misteri dan perdebatan. Kini, penjelasan seorang astronom Masafumi Noguchi dari Tohoku University, Sendai, Jepang mungkin dapat menjawab teka-teki tersebut.

Noguchi mengatakan, ia telah menghitung evolusi galaksi selama periode 10 miliar tahun berdasarkan teori yang disebut pertambahan aliran dingin.

Teori ini mulanya digunakan untuk menggambarkan galaksi yang jauh lebih besar daripada galaksi kita. Namun, Noguchi menunjukkan bahwa teori itu juga berlaku untuk menguraikan galaksi Bima Sakti.

Baca juga: Teleskop Hubble Tangkap Gambar Galaksi Saudara Bima Sakti

Menurut model yang dibuat Noguchi dan telah terbit di jurnal Nature, perbedaan pada dua kelompok bintang disebabkan oleh dua periode pembentukan bintang yang dipisahkan oleh periode "tidur" cukup panjang.

Dalam laporannya, Noguchi mengatakan komposisi kimia pada kelompok bintang tergantung pada asal pembentukan bintang itu sendiri.

Pada tahap awal model, aliran gas dingin (akresi aliran dingin) mengalir ke galaksi dari luar dan bintang-bintang awal terbentuk dari gas ini.

Setelah beberapa juta tahun, beberapa bintang yang berumur pendek meledak sebagai supernova, menghasilkan sejumlah bintang kaya unsur alfa yang masuk ke dalam gas dan kemudian terintegrasi ke bintang lain.

Menurut Noguchi, sekitar tujuh miliar tahun lalu gelombang kejut muncul dan memanaskan gas dengan suhu tinggi, menghentikan alirannya ke galaksi dan menghentikan proses pembentukan bintang.

Selama periode "tidur" yang berlangsung sekitar dua miliar tahun, ledakan supernova dari bintang-bintang berumur panjang membuat ada "suntikan" zat besi ke dalam gas, sehingga mengubah komposisinya.

Kemudian, sekitar lima miliar tahun lalu, gas mendingin dan terbentuk bintang generasi kedua dengan kandungan zat besi yang jauh lebih tinggi. Salah satu contoh bintang generasi kedua adalah matahari.

Baca juga: Astronom: Butuh 200 Juta Tahun Cahaya untuk Mengelilingi Bima Sakti

Model yang dijelaskan Noguchi ini mirip seperti studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa galaksi tetangga Andromeda juga menghasilkan bintang dalam dua zaman berbeda dan diselingi periode tidak aktif.

Jadi kesimpulannya, galaksi spiral besar seperti Andromeda dan Bima Sakti mungkin mengalami periode "tidur" dalam pembentukan bintang, sementara galaksi yang lebih kecil menghasilkan bintang secara terus menerus.

"Observasi selanjutnya tentang galaksi dapat merevolusi pandangan kita tentang pembentukan galaksi," ujar Noguchi dilansir Newsweek, Kamis (23/8/2018).

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber Newsweek
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X