Induksi Persalinan di Usia 39 Minggu Bisa Dipertimbangkan, Asal... - Kompas.com

Induksi Persalinan di Usia 39 Minggu Bisa Dipertimbangkan, Asal...

Kompas.com - 10/08/2018, 19:02 WIB
Ilustrasi hamil.Thinkstock Ilustrasi hamil.


KOMPAS.com - Dalam dunia medis, induksi untuk persalinan akan diberikan bila sampai usia lebih dari 41 minggu ibu belum menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan.

Berbeda dengan praktik yang selama ini dilakukan, studi terbaru yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine, Rabu (8/8/2018), menemukan induksi bisa diberikan lebih awal.

Menurut ahli dari Tufts University School of Medicine yang terlibat dalam penelitian, induksi di usia 39 minggu kehamilan akan menurunkan risiko persalinan lewat operasi caesar.

Baca juga: Manfaat Induksi Persalinan untuk Janin Besar

Dalam penelitiannya, tim ahli melibatkan lebih dari 6.000 ibu hamil di AS. Responden penelitian dibagi menjadi dua kelompok secara acak, pertama diberi induksi pada usia 39 minggu dan kelompok kedua diminta menunggu kelahiran lebih lama.

Hasilnya, ibu hamil yang diinduksi pada usia 39 minggu peluangnya untuk menjalani operasi caesar jauh lebih kecil dibanding ibu pada kelompok dua yang menunggu persalinan secara alami.

Selain itu, risiko komplikasi seperti infeksi, pendarahan, dan meninggal saat lahir juga tidak ditemukan pada kedua kelompok.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, temuan ini membantu para dokter untuk bisa menawarkan induksi persalinan di usia 39 minggu pada ibu hamil yang sehat dan tidak memiliki risiko kehamilan.

Baca juga: Ibu Hamil Ketahuan Mengidap Hepatitis B, Lalu Bagaimana Bayinya?

Meski begitu bukan berarti semua ibu hamil perlu diinduksi. Sebaliknya, induksi persalinan di usia 39 minggu bisa menjadi pilihan bagi wanita tertentu yang ingin diinduksi.

"Temuan ini tidak untuk merekomendasikan atau mendorong dilakukannya induksi bagi semua ibu hamil pada usia 39 minggu. Namun, bila ada seorang ibu hamil datang ke dokter kandungan dan minta diinduksi, temuan ini bisa jadi bahan pertimbangan," tegas Dr Errol Norwitz, ketua kebidanan dan ginekologi di Tufts University School of Medicine, dilansir Live Science, Kamis (9/8/2018).



Close Ads X