Kompas.com - 08/08/2018, 17:32 WIB
Ilustrasi semut membangun jembatan dengan tubuhnya Ilustrasi semut membangun jembatan dengan tubuhnya

KOMPAS.com - Seorang warganet bernama Francisco Boni belum lama ini membagikan sebuah video yang merekam aksi ribuan semut membangun "jembatan tali" dengan tubuhnya. Jembatan itu menggelantung dari atap ke sarang tawon di dekatnya.

Meski Boni tidak merekamnya secara langsung, kiriman yang dibagikannya itu sudah dilihat lebih dari 700.000 kali pengguna Twitter dan di-retweet lebih dari 10.000 akun.

Boni mengaku mendapatkan video itu dari laman Facebook El Entomólogo. Dalam keterangannya, El Entomólogo menggambarkan fenomena itu sebagai penjarahan sarang tawon oleh semut.

"Saat serangan seperti ini terjadi, tawon biasanya melarikan diri dan semut benar-benar menjarah sarangnya. Semut akan membawa kepompong, larva, telur, dan beberapa tawon yang tidak berhasil melarikan diri," tulis El Entomólogo di keterangannya dalam bahasa Spanyol, dilansir Newsweek, Selasa (7/8/2018).

Baca juga: Kawin Bikin Sistem Imun Ratu Semut Meningkat, Kok Bisa?

Dari unggahan Twitter-nya, berbagai macam respons muncul. Ada yang takut dan ingin membakarnya, ada yang bingung dengan mekanisme pembuatan jembatan, ada yang mempertanyakan bagaimana semut membangun "jembatan tali" ke atas.

Ada pula yang mempertanyakan mengapa semut tidak langsung berjalan menyusuri atap saja untuk menghampiri sarang tawon. Boni berspekulasi, hal ini mungkin dilakukan karena semua semut berusaha berjalan terbalik.

Makhluk kecil yang mungkin kita anggap biasa saja dan sering diremehkan, sebenarnya memiliki perilaku unik yang mungkin tak kita duga.

Salah satunya semut spesies Colobopsis explodens. Dalam laporan yang terbit di jurnal ZooKeys, para ahli mengatakan spesies ini dapat memuntahkan racun kuning pekat untuk melukai musuhnya.

Baca juga: Semut Matabele, Hewan Pertama yang Punya Klinik Kesehatan

Selain itu, ada juga semut Afrika Matabele yang memiliki klinik kesehatan. Seperti diberitakan sebelumnya, spesies ini rela menolong anggota kelompoknya yang terluka di medan perang. Dalam laporan yang terbit di jurnal Prosiding Royal Society B., ahli mengklaim ini adalah perilaku unik tentang keperawatan yang dilakukan hewan setelah manusia.

Belum lama ini para ahli juga menyelidiki spesies semut invasif yang menyebar ke seluruh dunia lewat rute perdagangan manusia. Mereka pergi dari satu negara ke negara lain dan menyebar ke seluruh dunia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Newsweek
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

9 Kali Gempa Susulan, BMKG Tegaskan Gempa Talaud Bukan Megathrust

9 Kali Gempa Susulan, BMKG Tegaskan Gempa Talaud Bukan Megathrust

Fenomena
Gempa Terkini: M 6,1 Guncang Talaud, Ini Catatan Gempa yang Pernah Terjadi di Sulawesi Utara

Gempa Terkini: M 6,1 Guncang Talaud, Ini Catatan Gempa yang Pernah Terjadi di Sulawesi Utara

Fenomena
Indonesia Didorong Jadi Lumbung Pangan Dunia Lewat Studi Pertanian

Indonesia Didorong Jadi Lumbung Pangan Dunia Lewat Studi Pertanian

Oh Begitu
Sejarah Penemuan Termometer: Penemu dan Perkembangannya

Sejarah Penemuan Termometer: Penemu dan Perkembangannya

Oh Begitu
Bagaimana Bulan Bisa Bersinar Terang di Malam Hari?

Bagaimana Bulan Bisa Bersinar Terang di Malam Hari?

Oh Begitu
Penyakit Tifus: Penyebab, Gejala, dan Jenis-jenisnya

Penyakit Tifus: Penyebab, Gejala, dan Jenis-jenisnya

Kita
Kabar Baik, Populasi Jerapah Meningkat 20 Persen, Ini Kata Ilmuwan

Kabar Baik, Populasi Jerapah Meningkat 20 Persen, Ini Kata Ilmuwan

Fenomena
[POPULER SAINS]: Penyebab Letusan Gunung Krakatau 1883 | Karbon Purba Mars | Fenomena Aphelion | Gunung Merapi Semburkan Awan Panas

[POPULER SAINS]: Penyebab Letusan Gunung Krakatau 1883 | Karbon Purba Mars | Fenomena Aphelion | Gunung Merapi Semburkan Awan Panas

Oh Begitu
Hasil Tes Covid dari Alat RT-LAMP BRIN Diklaim Bisa Keluar Kurang dari Satu Jam

Hasil Tes Covid dari Alat RT-LAMP BRIN Diklaim Bisa Keluar Kurang dari Satu Jam

Oh Begitu
Roket Falcon 9 SpaceX Berhasil Luncurkan 49 Satelit Internet Starlink ke Luar Angkasa

Roket Falcon 9 SpaceX Berhasil Luncurkan 49 Satelit Internet Starlink ke Luar Angkasa

Fenomena
Gunung Merapi Semburkan Awan Panas, Waspada Radius 5 KM dari Puncak

Gunung Merapi Semburkan Awan Panas, Waspada Radius 5 KM dari Puncak

Fenomena
Penyebab Kanker Limpa dan Faktor Risikonya

Penyebab Kanker Limpa dan Faktor Risikonya

Kita
Atom yang Mendapatkan atau Melepas Elektron untuk Pembentukan Ion

Atom yang Mendapatkan atau Melepas Elektron untuk Pembentukan Ion

Prof Cilik
Inti Sel: Pengertian, Fungsi, dan Bagian-bagiannya

Inti Sel: Pengertian, Fungsi, dan Bagian-bagiannya

Kita
Matahari akan Terbenam Lebih Lambat di Indonesia Akhir Januari 2022, Ada Apa?

Matahari akan Terbenam Lebih Lambat di Indonesia Akhir Januari 2022, Ada Apa?

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.