Prediksi Ilmuwan: 2070, China Dilanda Gelombang Panas Mematikan - Kompas.com

Prediksi Ilmuwan: 2070, China Dilanda Gelombang Panas Mematikan

Kompas.com - 08/08/2018, 14:03 WIB
Ilustrasi gelombang panasshutterstock Ilustrasi gelombang panas

KOMPAS.com - Sebuah laporan penelitian terbaru mengungkapkan prediksi tak terduga tentang keadaan China 50 tahun mendatang.

Dalam laporan yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications, para peneliti merinci pengaruh perubahan iklim di wilayah utara China, tempat kota besar Beijing dan Tianjin berada.

Menurut laporan tersebut, wilayah tersebut akan menghangat dengan cepat.

Padahal, kota-kota besar di daerah tersebut merupakan salah satu tempat paling padat penduduk di Bumi.

"Tempat ini akan menjadi tempat terpanas untuk gelombang panas yang mematikan di masa depan, terutama di bawah pengaruh perubahan iklim," ungkap Profesor Elfatih Eltahir, pemimpin penelitian ini dikutip dari News.com.au, Kamis (02/08/2018).

Kelembapan Turut Berperan

Dari data prediksi dalam temuan tersebut, gelombang panas ini akan menjadi yang terburuk di Bumi.

Bahkan, meski di tempat teduh, panas dan tingginya kelembapan pada 2070 bisa membunuh manusia hanya dalam waktu 6 jam.

Dengan kata lain, masalah yang dihadapi bukan hanya panas tapi tingginya kelembapan udara di wilayah itu.

Para peneliti menyebut fenomena itu sebagai suhu "bola basah".

Artinya, kemampuan tubuh manusia menahan gelombang panas itu bergantung pada kemampuannya berkeringat. Keringat ini berfungsi sebagai cara mendinginkan kulit melalui penguapan.

Padahal diperkirakan nantinya kelembapan udara di China 50 tahun mendatang cukup tinggi. Kelembapan ekstrem ini berarti tidak ada ruang untuk keringat keluar.

Ini kemungkinan membuat tubuh manusia memanas.

Baca juga: Bukti Baru, Gelombang Panas Bikin Otak Susah Berpikir

Bahkan orang dewasa yang sehat akan sulit bertahan hidup di luar ruangan di "bola basah" 35 derajat Celcius selama lebih dari enam jam.

Keringat Tidak Membantu

"Jika suhu bola basah melebihi suhu kulit tubuh manusia (35 derajat Celcius), keringat tidak lagi berfungsi sebagai mekanisme pendinginan," kata Jeremy Pal, Profesor di Sekolah Tinggi Sains dan Teknik Seaver.

"Tubuh akan cepat panas, mengakibatkan kematian," ujarnya memperingatkan.

Untuk diketahui, bola basah 35 derajat Celcius diproduksi dengan suhu panas 44,4 derajat Celcius dalam kelembapan 55 persen.

Jika kelembapan mencapai 85 persen, kondisi bola basah bisa mencapai 37,8 derajat Celcius.

"Ketika sangat panas dan lembap di luar, panas dalam tubuh tidak dapat dikeluarkan," tutur Camilo Mora, peneliti dari Hawaii University.

"Ini menciptakan kondisi 'heat cytotoxicity' yang bisa merusak banyak organ," imbuhnya.

Mora menjelaskan rasanya mungkin seperti terbakar sinar matahari tetapi di dalam tubuh.

Dalam laporan tersebut, kondisi ini kemungkinan akan terjadi pada tahun 2070.

"China saat ini menjadi penyumbang terbesar emisi gas-gas rumah kaca, dengan implikasi serius terhadap populasinya sendiri: Kelanjutan dari pola emisi global saat ini dapat membatasi tempat tinggal di wilayah terpadat di negara yang paling padat penduduknya di Bumi," tulis para peneliti dalam kesimpulan laporan tersebut.


Komentar
Close Ads X