Bagaimana Pengaruh Gempa Lombok terhadap Gunung Api di Sekitarnya?

Kompas.com - 06/08/2018, 16:13 WIB
Keindahan kaldera Gunung Rinjani dengan Danau Segara Anak dan gunung anakan Barujari menjadi salah satu daya tarik wisata di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. KOMPAS/Iwan Setiyawan Keindahan kaldera Gunung Rinjani dengan Danau Segara Anak dan gunung anakan Barujari menjadi salah satu daya tarik wisata di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Oleh Mirzam Abdurrachman

MENYUSUL gempa bumi mematikan berskala magnitudo 6,4 pada 29 Juli 2018, Pulau Lombok di Nusa Tenggara Barat kembali diguncang gempa dengan kekuatan magnitudo 7,0 pada Minggu (5/8/2018) malam.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana menghitung, setidaknya 82 orang meninggal dunia dan raturan luka-luka akibat tertimpa material bangunan yang robok akibat guncangan. Sebelum gempa besar terkini, setidaknya hampir 500 gempa kecil terjadi pasca-guncangan 29 Juli.

Kejadian ini mengingatkan pada gempa besar Tohoku di Jepang pada 2011 silam. Saat itu gempa dengan magnitudo 9,0 menghantam pantai timur Jepang. Beberapa hari sebelumnya gempa-gempa dengan kekuatan yang lebih kecil datang berkali-kali.

Setelah mainshock atau gempa utama, terjadi gempa-gempa kecil dengan kekuatan yang semakin menurun dan akhirnya benar-benar berhenti karena Bumi telah mencapai kestabilannya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan‎ Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa gempa 5 Agustus di Lombok kemarin adalah gempa utama. Belajar dari pengalaman gempa Tohoku, semoga sesudah gempa utama di Lombok tidak ada lagi gempa besar yang akan terjadi.

Di dekat titik gempa Lombok terdapat beberapa gunung api aktif, yakni Gunung Rinjani di Lombok, Gunung Agung di Bali, dan Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat.

Bagaimana dengan efek gempa besar dan gempa-gempa susulan bagi gunung api aktif di sekitar Pulau Lombok?

Gempa tektonik

Gempa tektonik adalah jenis gempa yang disebabkan oleh pergeseran lempeng-lempeng Bumi sehingga umumnya terjadi di batas antar-pertemuan lempeng yang berinteraksi.

Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng utama. Lempeng Eurasia di bagian utara, kemudian Lempeng Indo-Australia yang menyusup di bawah Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik dan Filipina di Timur.

Pergerakan lempeng-lempeng tersebut menyebabkan terjadinya penimbunan energi secara perlahan-lahan. Ketika akumulasi energi tersebut dilepaskan dengan tiba-tiba, maka itulah yang disebut dengan gempa tektonik.

Pertemuan tiga lempeng utama tersebut terjadi di Indonesia, maka tidak heran bila negeri ini menjadi kaya akan gempa.

Halaman:


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:


Close Ads X