Kompas.com - 31/07/2018, 17:33 WIB
Profesor Universitas Kyoto Jun Takahashi berkata dalam konferensi pers Senin (30/7/2018), pihaknya akan memulai uji klinis metode pengobatan penyakit Parkinson minggu ini. Mereka menggunakan sejenis sel yang berpotensi mengobati penyakit Parkinson. Profesor Universitas Kyoto Jun Takahashi berkata dalam konferensi pers Senin (30/7/2018), pihaknya akan memulai uji klinis metode pengobatan penyakit Parkinson minggu ini. Mereka menggunakan sejenis sel yang berpotensi mengobati penyakit Parkinson.

KOMPAS.com - Sejumlah ilmuwan dari Universitas Kyoto, Jepang, mengumumkan rencana besar mereka terkait pengobatan penyakit Parkinson yang kerap menyerang manula. Pertama kalinya dalam sejarah medis, mereka akan melakukan uji klinis metode stem cell pada manusia.

Dalam konferensi pers yang dilakukan Senin (30/7/2018), metode yang digunakan adalah mengganti sejumlah sel yang rusak dengan sejenis sel induk baru.

Para ahli berencana akan menyuntikkan lima juta sel Pluripotent Stem (iPS) yang diinduksi ke otak pasien. Menurut mereka, iPS memiliki potensi untuk berkembang menjadi sel di dalam tubuh.

Ahli berencana melakukan uji klinis terhadap tujuh peserta berusia 50 sampai 69 tahun pada Rabu (1/8/2018).

Baca juga: Kisah Joy Milne, Perempuan yang Bisa Mencium Bau Penyakit Parkinson

Dalam siaran pers yang dilansir AFP, Senin (30/7/2018), ahli akan mengambil sel iPS dari pendonor sehat agar nantinya dapat berkembang menjadi sel otak penghasil dopamin. Seperti kita tahu, pasien Parkinson kekurangan dopamin.

Setelah operasi dilakukan, para ahli akan terus memantau kondisi peserta selama dua tahun.

Dengan rencana ini, artinya harapan untuk pulih dari penyakit Parkinson semakin besar.

"Saat ini, terapi yang tersedia untuk penyakit Parkinson adalah mengurangi gejala, namun tidak bisa memperlambat atau menghentikan perkembangan penyakit," ujar Parkinson's Disease Foundation.

Menurut Parkinson's Disease Foundation, ada sekitar 10 juta orang di seluruh dunia yang mengidap penyakit Parkinson.

Sebelumnya diujikan ke monyet

Tahun lalu, para ahli mengumumkan gejala Parkinson pada monyet secara bertahap hilang setelah sel iPS dimasukkan ke otak. Selain gejala yang hilang, tingkat mobilitas primata pun meningkat.

Ahli menegaskan, sel-sel iPS yang dimasukkan ke otak tidak berubah menjadi tumor setalah dua tahun dioperasi.

Baca juga: Pukulan di Kepala Pemicu Parkinson pada Muhammad Ali?

Tentang sel iPS

Selain dipercaya dapat mengobati Parkinson, banyak ahli telah membuktikan bahwa sel iPS mampu berkembang menjadi berbagai jenis sel yang berbeda dan dapat berperan penting dalam penelitian medis.

Misalnya, pada 2014, Riken (lembaga penelitian yang didukung pemerintah Jepang) melakukan operasi penanaman sel iPS pertama di dunia untuk mengobati pasien dengan degenerasi makula terkait usia (AMD). AMD merupakan kondisi medis yang kerap menyebabkan kebutaan pada lansia.

Universitas Osaka juga berencana melakukan uji klinis untuk mengobati gagal jantung dengan menggunakan lembaran sel otot jantung yang terbuat dari sel iPS.

Pada Januari 2018, sejumlah ahli dari Duke University, AS, megumumkan mereka berhasil mengembangkan fungsi otot manusia dari sel iPS di laboratorium.



Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X