Melestarikan Hutan dengan Cara Suku Amazon Purba

Kompas.com - 30/07/2018, 19:06 WIB
Awalnya, tim peneliti melakukan pemeriksaan terhadap arang, serbuk sari dan tanaman yang tersisa dari tanah di situs arkeologi sebelah timur Brasil dan sedimen tanah dari danau terdekat untuk menelusuri sejarah vegetasi dan kebakaran di daerah tersebut. Dr Yoshi MaezumiAwalnya, tim peneliti melakukan pemeriksaan terhadap arang, serbuk sari dan tanaman yang tersisa dari tanah di situs arkeologi sebelah timur Brasil dan sedimen tanah dari danau terdekat untuk menelusuri sejarah vegetasi dan kebakaran di daerah tersebut.

KOMPAS.com – Ada temuan menarik dari penelitian yang dilakukan oleh University of Exter tentang bagaimana cara suku Amazon purba bercocok tanam.

Penelitian yang terdiri dari arkeolog, ahli paleoekologi, ahli botani, dan ahli ekologi ini mengungkap sejarah terperinci tentang penggunaan lahan dan manajemen kebakaran jangka panjang yang dilakukan manusia.

Lebih lanjut, penelitian ini menunjukkan bagaimana awal petani Amazon purba menggunakan lahan secara intensif dan memperbanyak jenis tanaman untuk pertanian tanpa deforestasi yang menyebabkan nutrisi tanah menjadi habis.

Cara yang dilakukan petani adalah dengan menggunakan api untuk memperbaiki nutrisi tanah.

Baca juga: Bukti Baru Memutar Balik Sejarah Pulau Paskah

Awalnya, tim peneliti melakukan pemeriksaan terhadap arang, serbuk sari dan tanaman yang tersisa dari tanah di situs arkeologi sebelah timur Brasil dan sedimen tanah dari danau terdekat untuk menelusuri sejarah vegetasi dan kebakaran di daerah tersebut.

Penelitian ini menunjukkan bahwa jagung, ubi jalar, ubi kayu dan labu sudah dibudidayakan 4.500 tahun yang lalu di Amazon. Cara yang digunakan petani dalam meningkatkan jumlah makanan yang mereka tanam adalah dengan meningkatkan kandungan nutrisi tanah melalui pembakaran dan penambahan pupuk dan sisa makanan.

Temuan ini menjelaskan mengapa hutan di sekitar situs arkeologi di Amazon saat ini memiliki varian konsentrasi tanaman yang dapat dimakan.

“Orang Amazon ribuan tahun lalu mengembangkan tanah kaya nutrisi yang disebut Amazonian Dark Earths (ADEs). Mereka bertani dengan cara pelestarian dan penggunaan tanah yang berkelanjutan, daripada memperluas lahan untuk pertanian. Ini adalah cara bertani yang jauh lebih baik,” ungkap Dr Yoshi Maezumi dari Universitas Exeter.

Baca juga: Jejak DNA, Petani Pertama Asia Tenggara adalah Migran China

Pengembangan ADE memungkinkan jagung dan tanaman lainnya yang biasanya hanya tumbuh di dekat danau yang kaya nutrisi, menjadi dapat ditanami di daerah lain yang umumnya memiliki tanah yang kurang nutrisi.

Selain itu, cara ini dapat meningkatkan jumlah makanan yang tersedia untuk pertumbuhan populasi Amazon pada saat itu.

“Masyarakat Amazon purba mungkin juga membersihkan beberapa pohon penghalang dan rumput liar untuk bertani, tetapi mereka mempertahankan hutan sebagai kanopi tertutup, diperkaya dengan tanaman yang memberikan mereka makanan," kata Maezumi.

Dia melanjutkan, ini adalah penggunaan tanah yang sangat berbeda dengan hari ini, di mana banyak lahan di Amazon dibersihkan dan ditanam untuk sawah skala industri, pertanian kacang kedelai dan penggembalaan ternak.

“Kami berharap para konservasionis modern dapat belajar dari penggunaan tanah adat di Amazon untuk menginformasikan tentang bagaimana melindungi hutan modern,” harap Maezumi.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X