Cara Pelatih Jaga Tim Sepak Bola Remaja Terjebak di Goa Bertahan Hidup - Kompas.com

Cara Pelatih Jaga Tim Sepak Bola Remaja Terjebak di Goa Bertahan Hidup

Kompas.com - 08/07/2018, 20:07 WIB
Detik-detik penyelamatan tim sepak bola remaja dan pelatih mereka yang hilang selama 9 hari di dalam goa, di Thailand. Mereka ditemukan pada Senin (2/7/2018). (Facebook/Thai Navy Seal) Detik-detik penyelamatan tim sepak bola remaja dan pelatih mereka yang hilang selama 9 hari di dalam goa, di Thailand. Mereka ditemukan pada Senin (2/7/2018). (Facebook/Thai Navy Seal)

MAE SAI, KOMPAS.com - Kepala pelatih tim sepak bola di Thailand menghabiskan pagi pada 23 Juni 2018 untuk menyiapkan asisten mudanya menjalankan tugas pentingnya, yaitu menjaga para remaja tanpa pendampingan dari senior lainnya.

Kepala pelatih tim sepak bola bernama Moo Pa, Nopparat Khanthavong (37), memilik janji pada pagi itu dengan Ekapol Chanthawong, asistennya.

Ekapol bertugas untuk membawa anak-anak yang lebih muda ke lapangan bola di dekat pegunungan Doi Nang Non.

Untuk menuju ke sana, mereka harus melewati wilayah dipenuhi banyak air terjun dan gua di perbatasan Thailand-Myanmar.

"Pastikan Anda mengendarai sepeda di belakang mereka saat kalian bepergian, sehingga kalian dapat tetap waspada," tulisnya dalam pesan Facebook yang dia tunjukkan kepada The Washington Post.

Baca juga: Evakuasi Dimulai, Butuh Tiga Hari Keluarkan Semua Remaja Terjebak di Goa

Beberapa jam setelah, sebuah peristiwa yang terjadi pada mereka membuat dunia tercengang. Mereka hilang setelah hujan lebat menyebabkan banjir di dalam goa.

Pencarian dan penyelamatan dramatis dilakukan untuk menemukan 12 remaja dan Ekapol dalam keadaan hidup, setelah 9 hari terjebak di dalam goa. Mereka ditemukan dalam keadaan berkerumun pada satu area kecil yang berlumpur dan dikelilingi banjir.

Perhatian terfokus pada satu-satunya orang dewasa di kelompok itu, seorang mantan biksu berusia 25 tahun yaitu Ekapol.

Pria tersebut menjadi sorotan tentang perannnya dalam kesulitan dan kelangsungan hidup kelompok remaja selama di goa.

Beberapa mengecam Ekapol karena memimpin perjalanan tim sepak bola remaja ke dalam goa, meski ada tanda peringatan besar di pintu masuk goa tentang risiko pada musim hujan.

Yatim piatu

Namun, banyak juga warga di Thailand yang memberi dukungan kepada Ekapol untuk tetap menjaga anak-anak bertahan di dalam goa.

Dia menjalani kehidupan sebagai seorang biksu pada tiga tahun lalu, kemudian dia bergabung pada tim sepak bola Moo Pa sebagai asisten pelatih.

Di media sosial, dia digambarkan dalam gambar animasi dengan duduk bersila, seperti meditasi yang dilakukan oleh para biksu. Pada gambar itu, ada 12 babi hutan kecil (Moo Pa) di lengannya.

Baca juga: Ayam Goreng hingga Jus, Begini Keinginan Tim yang Terjebak di Goa

Tim sepak bola remaja Thailand berada dalam kondisi yang baik dan sehat, setelah terjebak di dalam goa sejak 23 Juni 2018. (Facebook/AL Thailand) Tim sepak bola remaja Thailand berada dalam kondisi yang baik dan sehat, setelah terjebak di dalam goa sejak 23 Juni 2018. (Facebook/AL Thailand)
Menurut petugas penyelamat, Ekapol dalam kondisi paling lemah dalam kelompok itu.

Hal itu dikarenakan dia memberi anak-anak jatahnya untuk makanan dan air yang terbatas, yang mereka bawa dalam perjalanan.

Dia juga mengajarkan anak-anak cara bermeditasi dan menghemat energi sebanyak mungkin sampai dapat ditemukan.

"Jika dia tidak ikut dengan mereka, apa yang akan terjadi pada anak saya?" kata Pornchai Khamluang, seorang ibu dari seorang remaja yang terjebak di goa.

"Ketika dia keluar (dari goa), kita harus menyembuhkan hatinya. Ek (Ekapol) tersayang, saya tidak akan pernah menyalahkanmu," imbuhnya.

Ekapol merupakan seorang yatim piatu yang kehilangan orangtuanya pada usia 10 tahun.

Kemudian dia dilatih menjadi biksu tetapi meninggalkan biara untuk merawat neneknya yang sakit di Mae Sai, Thailand utara. Di sana, dia membagi waktunya antara bekerja di kuil dan melatih tim Moo Pa yang baru dibentuk.

Baca juga: Tim Sepak Bola Remaja Terperangkap di Goa Kirim Pesan ke Orangtua

Dia menemukan kekuatan dalam diri anak-anak yang tumbuh dalam kemiskinan, etnis minoritas, atau bahkan tanpa kewarganegaraan.

"Dia menyayangi mereka lebih dari dirinya sendiri," kata Joy Khampai, teman lama Ekapol.

"Saya mengenal dia, dan saya tahu dia akan menyalahkan dirinya sendiri," ujarnya.

Dalam surat yang ditulisnya dan dirilis oleh AL Thailand, Ekapol menyampaikan permintaan maaf.

"Untuk semua orangtua, semua anak-anak kalian masih baik-baik saja. Saya berjanji akan menjaga mereka dengan baik," tulisnya.

"Terima kasih atas semua dukungan dan saya mohon maaf kepada para orangtua," imbuhnya.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Komentar
Close Ads X