Kompas.com - 01/06/2018, 19:51 WIB
Siswa SDN 2 Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, Jaawa Timur, belajar musik tradisional angklung gamelan di halaman sekolahnya, Kamis (8/2/2018). KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATISiswa SDN 2 Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, Jaawa Timur, belajar musik tradisional angklung gamelan di halaman sekolahnya, Kamis (8/2/2018).

KOMPAS.com - Apakah Anda termasuk kelompok polyglot (bisa lebih dari dua bahasa) sekaligus gemar memainkan alat musik? Jika iya, jangan hentikan kebiasaan tersebut.

Itu karena kedua kebiasaan tersebut bisa menjaga otak tetap sehat. Hal ini ditunjukkan dalam sebuah makalah yang dipublikasikan dalam jurnal Annals of New York Academy of Sciences.

Menurrut penelitian tersebut, individu dengan latar belakang musik atau bilingual mengaktifkan jaringan otak yang berbeda dan menunjukkan aktivitas otak yang lebih sedikit untuk menyelesaikan tugas.

"Temuan ini menunjukkan bahwa musisi dan orang yang berbicara lebih dari satu bahasa membutuhkan lebih sedikit upaya untuk melakukan tugas yang sama," ungkap Dr Claude Alain penulis utama dalam penelitian ini dikutip dari Science Daily, Kamis (17/05/2018).

Menurut Alain, hal ini dapat melindungi mereka terhadap penurunan kognitif dan menunda timbulnya demensia

"Hasil kami juga menunjukkan bahwa pengalaman seseorang, apakah itu belajar cara memainkan alat musik atau bahasa lain, dapat membentuk bagaimana fungsi otak dan jaringan yang digunakan," ujar ilmuwan di Baycrest's Rotman Research Institute tersebut.

Temuan ini didapatkan para peneliti dari Baycrest Centre for Geriatric Care, Kanada setelah merekrut 41 responden berusia antara 19 – 35 tahun.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selanjutnya, para peserta dibagi menjadi tiga kelompok.

Kelompok pertama berisi peserta yang hanya berbahasa Inggris dari golongan bukan musisi. Kelompok kedua adalah para musisi berbahasa Inggris.

Sedangkan, kelompok ketiga adalah peserta yang fasih dua bahasa tapi tidak mahir bermusik.

Lantas, citra otak para partisipan ditangkap ketika mereka diminta untuk mengidentifikasi apakah suara yang didengar sama dengan suara sebelumnya.

Baca juga: Belajar Musik Bisa Tingkatkan Nilai Akademik Anak

Tak hanya itu, mereka juga diminta mendeteksi apakah arah suara tersebut dengan yang sebelumnya.

 

Hasilnya, musisi mengingat suara lebih cepat dibanding individu dalam kelompok lain. Sementara itu, individu dalam kelompok musisi yang bisa berbicara lebih dari satu bahasa lebih tepat dalam menjawab lokasi suara.

Para bilingual juga cepat merespons suara yang diperdengarkan, kendati tidak secepat musisi. Sedangkan mereka yang bukan pemusik dan hanya bicara dalam satu bahasa lebih lambat menangkap informasi suara.

“Orang-orang yang berkomunikasi dua bahasa mungkin butuh waktu lebih lama untuk memproses suara. Pasalnya informasi tersebut mesti dicerna dulu lewat dua bahasa,” ujar Dr Alain.

Ini sesuai dengan gambaran aktivitas otak para bilingual. Alain menambahkan, area pemahaman bicara di otak lebih aktif dibanding area lain.

Dengan demikian, otak para polyglot dan musisi sudah langsung tahu area mana yang mesti dipakai ketika merekam memori. Bagian otak langsung sigap dan mengetahui fungsinya masing-masing.

Sehingga, otak tidak perlu bekerja keras mengaktifkan seluruh jaringannya, padahal tidak terpakai.

Temuan ini sekaligus mengarahkan pada pemikiran mendatang bahwa musik dan bahasa mampu menangkal demensia dan penurunan fungsi kognitif.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Varian Beta dan Omicron dari Satu Negara, Mengapa Afrika Rawan Munculnya Varian Baru Covid-19?

Varian Beta dan Omicron dari Satu Negara, Mengapa Afrika Rawan Munculnya Varian Baru Covid-19?

Oh Begitu
Pecahkan Rekor, Wahana Antariksa Parker Ada di Jarak Terdekat dengan Matahari

Pecahkan Rekor, Wahana Antariksa Parker Ada di Jarak Terdekat dengan Matahari

Oh Begitu
BMKG: Bibit Siklon Tropis 94W di Perairan Kamboja Pengaruhi Cuaca Indonesia

BMKG: Bibit Siklon Tropis 94W di Perairan Kamboja Pengaruhi Cuaca Indonesia

Fenomena
Nikel Indonesia Guncang Dunia, Ini Tanaman Penambang Nikel di Sorowako Sulsel

Nikel Indonesia Guncang Dunia, Ini Tanaman Penambang Nikel di Sorowako Sulsel

Oh Begitu
Ada Varian Baru Omicron, Akankah Gelombang 3 Pandemi Terjadi Akhir Tahun Ini?

Ada Varian Baru Omicron, Akankah Gelombang 3 Pandemi Terjadi Akhir Tahun Ini?

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Apa Itu Pneumonia yang Dialami Ameer Azzikra | Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

[POPULER SAINS] Apa Itu Pneumonia yang Dialami Ameer Azzikra | Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Oh Begitu
Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Oh Begitu
Apa Itu Sarkoma Jantung, Kanker yang Diidap Virgil Abloh Sebelum Meninggal Dunia?

Apa Itu Sarkoma Jantung, Kanker yang Diidap Virgil Abloh Sebelum Meninggal Dunia?

Oh Begitu
Varian Baru Omicron 500 Persen Lebih Menular, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Bepergian Saat Nataru

Varian Baru Omicron 500 Persen Lebih Menular, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Bepergian Saat Nataru

Oh Begitu
Akibat Es Laut Arktik Mencair, Beruang Kutub Kejar dan Mangsa Rusa

Akibat Es Laut Arktik Mencair, Beruang Kutub Kejar dan Mangsa Rusa

Fenomena
Ameer Azzikra Meninggal karena Pneumonia, Begini Kaitan Pneumonia dan Infeksi Ginjal

Ameer Azzikra Meninggal karena Pneumonia, Begini Kaitan Pneumonia dan Infeksi Ginjal

Oh Begitu
Jejak Dinosaurus di Texas Tampak Aneh, Peneliti Menduga Jejak Kaki Depan Sauropoda

Jejak Dinosaurus di Texas Tampak Aneh, Peneliti Menduga Jejak Kaki Depan Sauropoda

Fenomena
5 Minuman yang Baik untuk Asam Lambung

5 Minuman yang Baik untuk Asam Lambung

Kita
Ikan Nila Mengandung Mikroplastik, Ikan di Pulau Jawa Tak Layak Dikonsumsi

Ikan Nila Mengandung Mikroplastik, Ikan di Pulau Jawa Tak Layak Dikonsumsi

Fenomena
5 Manfaat Yodium untuk Kesehatan, Penting untuk Wanita Hamil

5 Manfaat Yodium untuk Kesehatan, Penting untuk Wanita Hamil

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.