Maniak Seks, Marsupialia Australia Ini Terancam Punah - Kompas.com

Maniak Seks, Marsupialia Australia Ini Terancam Punah

Kompas.com - 16/05/2018, 11:07 WIB
Dr Andrew Baker memegang seekor antechinus betina saat perjalanan riset di Quensland tengah.
Dr Andrew Baker memegang seekor antechinus betina saat perjalanan riset di Quensland tengah.

KOMPAS.com - Argenteus antechinus kecil hidup di puncak tertinggi Tops Kroombit, barat daya Gladstone di Queensland tengah, dab dua daerah terpencil di dekat perbatasan Queensland dan New South Wales.

Andrew Baker dari Queensland University of Technology mengatakan, pejantan dari spesies ini terlalu banyak melakukan seks selama musim kawin. Hal ini membuat tubuh mereka memproduksi terlalu banyak testosteron yang sebanarnya berakibat fatal.

"Pada saat yang sama setiap tahun, mereka punya musim maraton seks selama tiga minggu. Ini adalah saat di mana semua jantan dan betina kawin secepat mungkin, dan pada akhirnya semua pejantan mati," kata Dr Baker.

Dr Baker mengatakan, saat bayi lahir tak ada satu pun pejantan dewasa yang masih hidup. Hal ini mendorong spesies punah.

Baca juga: Maniak Seks, Monyet Tanzania Berhubungan dengan Spesies Berbeda

"Itu sebenarnya merugikan populasi hewan dewasa di seluruh Australia. Ada kompetisi antara para pejantan dengan sperma terkuat. Mereka melakukan persaingan itu dari waktu ke waktu dan pada akhirnya melenyapkan banyak pejantan setiap tahunnya," jelas Baker.

Baker mengatakan durasi melakukan seks hewan-hewan ini sangat lama, antara beberapa jam sampai 14 jam tak henti.

Proses yang melelahkan ini juga berdampak pada hewan betina. Namun, pejantan yang lebih terkena imbasnya sampai menyebabkan kematian karena mereka memproduksi testosteron dalam tingkat tinggi.

"Tingkat testosteron yang tinggi ini sampai di titik pejantan memblokir saklar yang mematikan hormon stres," katanya.

"Kemudian mereka mengalami banjir kortisol dan itu lumayan menyebabkan kegagalan sistem kekebalan yang menghasilkan pendarahan internal dan jantan tumbang karena masih berusaha menemukan betina dalam keadaan itu dan akhirnya hanya mati," jelasnya.

Anjing pendeteksi bagian dari solusi

Antechinus argentus, juga dikenal sebagai antechinus berkepala perak yang minggu lalu terdaftar terancam punah dalam daftar spesies Pemerintah Australia.

Ketertarikan pada seks bukan satu-satunya ancaman bagi hewan kecil itu.

"Mereka tampaknya suka hutan basah, terbuka dan ada banyak ternak dan kuda dan babi di banyak taman nasional kita dan sayangnya spesies invasif menginjak-injak habitat yang mungkin digunakan antechinus untuk bersarang atau mencari makan," kata Dr Baker.

"Dan kemudian kami mendapat masalah perubahan iklim karena hewan itu sudah berada di ketinggian tertinggi di mana mereka ditemukan, jadi mereka tidak punya tempat lagi untuk pergi."

Ribuan perangkap kotak logam dietempatkan di seluruh wilayah habitat mamalia itu selama lima tahun terakhir untuk memungkinkan para peneliti mempelajari hewan itu lebih lanjut.

 Antechinus argentus jantan secara harafiah membunuh dirinya dengan terlalu banyak seks. Antechinus argentus jantan secara harafiah membunuh dirinya dengan terlalu banyak seks.

Dr Baker mengatakan kelompok riset itu juga telah bekerja dengan kelompok yang disebut Canines for Wildlife yang melatih anjing-anjing pendeteksi untuk mengendus spesies langka di kawasan di mana mereka sering ditemukan.

"Kami bertanya-tanya apakah mereka ada di lebih banyak tempat daripada yang kami sadari saat ini," katanya.

"Pada pertengahan tahun lalu, kami berhasil menemukan salah satu antechinus langka di tempat yang tidak pernah terlihat sejak akhir 1980-an dan anjing menemukan bahwa pada hari pertama atau kedua penyebaran. Anjing-anjing itu jenius, itu cukup mencengangkan," kata Baker antusias.

Kelompok riset sekarang akan memperluas program anjing pendeteksi untuk mencoba membantu spesies tersebut beregenerasi ke tingkat di mana ia dapat dihapus dari daftar spesies yang terancam punah.

Baca juga: Seks Tak Masuk Akal antara Monyet dan Rusa Rupanya Umum, Kok Bisa?

Dr Baker mengatakan itu tidak akan mudah.

"Kami beruntung bahwa beberapa tempat di mana mereka berada sebenarnya adalah taman nasional," katanya.

"Jika kita semua bekerja keras selama beberapa tahun ke depan kita dapat menyelamatkan spesies-spesies ini, karena seperti yang kita tahu, ancaman manusia [seperti] perubahan iklim dan sebagainya diperkirakan akan memburuk," tutupnya.


Komentar
Close Ads X