Robot Belut Disiapkan untuk Eksplorasi Bawah Laut, Apa Kelebihannya?

Kompas.com - 04/05/2018, 07:06 WIB

KOMPAS.com - Robot belut yang bisa berenang di air laut tanpa menimbulkan suara berhasil diciptakan oleh ahli dari Universitas California, San Diego.

Otot-otot buatannya bekerja secara sempurna, gerakannya ritmis, dan tampilannya sangat mirip dengan cara berenang belut asli.

"Robot ini didukung oleh otot-otot buatan yang berkontraksi dan meregang ketika dirangsang dengan listrik," kata Caleb Christianson, seorang mahasiswa Ph.D di Jacobs School of Engineering di UC San Diego.

"Dengan mengatur otot-otot ini dan menstimulasi mereka dalam urutan tertentu, kita dapat menghasilkan penggerak ke depan," katanya, seperti dikutip dari Digital Trends, Kamis (26/4/2018).

Robot belut ini tidak memiliki motor elektrik di dalam dirinya. Namun, ia dilengkapi dengan kabel yang mengalirkan arus listrik ke air di sekitarnya dan kantong air yang ada di dalam otot-otot buatannya. 

Baca Juga: Akan Diluncurkan Pada 2020, NASA Mulai Rakit Robot Penjelajah Mars

Arus listrik bermuatan negatif akan mengalir di air sekitar robot dan arus listrik muatan positif akan mengalir di dalam badan robot. Kondisi ini membuat otot-otot robot dapat bergerak menyerupai belut asli.

Menurut Christianson, robot belut ciptaannya tersebut diharapkan dapat membantu eksplorasi bawah laut yang lebih ramah lingkungan.

"Robot eksplorasi bawah laut biasanya didukung oleh baling-baling atau jet yang menghasilkan banyak suara, dan terbuat dari bahan kaku yang dapat merusak lingkungan jika menabrak," kata Christianson.

"Sebaliknya, struktur robot kami benar-benar lunak yang mengurangi risiko kerusakan lingkungan. Otot buatan yang kita gunakan juga stabil sehingga memungkinkan robot belut untuk berenang tanpa membuat suara," tambahnya.

Baca Juga: Akhirnya, Ada Robot yang Bisa Merakit Kursi IKEA Anda

Christianson mencatat, saat ini proyek robot belutnya masih tahap pembuktian tentang konsep propulsi bawah air.

Tim peneliti berharap dapat menambahkan berbagai sensor dan kamera, serta mengoptimalkan desain robot belut untuk memaksimalkan eksplorasi bawah laut.

Karya robot belut tersebut dijelaskan dalam sebuah makalah berjudul “Translucent soft robots driven by frameless fluid electrode dielectric elastomer actuators"  yang terbit di jurnal Science Robotic.

Video gerakan robot belut tersebut dapat Anda lihat di bawah ini.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tikus Diduga Menjadi Inang Virus Langya di China, Ini Kata Peneliti

Tikus Diduga Menjadi Inang Virus Langya di China, Ini Kata Peneliti

Oh Begitu
Vaksinasi Vs Infeksi, Mana yang Lebih Meningkatkan Antibodi Covid-19?

Vaksinasi Vs Infeksi, Mana yang Lebih Meningkatkan Antibodi Covid-19?

Oh Begitu
4 Alasan Tubuh Perlu Istirahat dari Rutinitas Olahraga

4 Alasan Tubuh Perlu Istirahat dari Rutinitas Olahraga

Oh Begitu
Studi Sebut Benua Tercipta dari Meteorit Raksasa yang Tabrak Bumi

Studi Sebut Benua Tercipta dari Meteorit Raksasa yang Tabrak Bumi

Oh Begitu
Kelapa Genjah, Kenali Karakteristik dan Varietasnya

Kelapa Genjah, Kenali Karakteristik dan Varietasnya

Oh Begitu
Fosil Tulang Mammoth di New Mexico Ungkap Pembantaian yang Dilakukan Manusia

Fosil Tulang Mammoth di New Mexico Ungkap Pembantaian yang Dilakukan Manusia

Fenomena
Sero Survei Ungkap 98,5 Persen Penduduk Indonesia Memiliki Antibodi Covid-19

Sero Survei Ungkap 98,5 Persen Penduduk Indonesia Memiliki Antibodi Covid-19

Oh Begitu
Peringatan Dini Gelombang Tinggi dari Sabang hingga Perairan Yogyakarta

Peringatan Dini Gelombang Tinggi dari Sabang hingga Perairan Yogyakarta

Fenomena
6 Dampak Perubahan Iklim pada Terumbu Karang

6 Dampak Perubahan Iklim pada Terumbu Karang

Fenomena
Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Perseid 13 Agustus, Begini Cara Menyaksikannya

Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Perseid 13 Agustus, Begini Cara Menyaksikannya

Fenomena
98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

Fenomena
[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

Oh Begitu
BRIN sebagai Ruang Kolektif Riset dan Inovasi Indonesia

BRIN sebagai Ruang Kolektif Riset dan Inovasi Indonesia

Oh Begitu
WMO Sebut Juli Jadi Bulan dengan Suhu Terpanas, Apa Dampaknya?

WMO Sebut Juli Jadi Bulan dengan Suhu Terpanas, Apa Dampaknya?

Fenomena
Bagaimana Mesin Ketik Pertama Kali Ditemukan? Ini Sejarahnya

Bagaimana Mesin Ketik Pertama Kali Ditemukan? Ini Sejarahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.