Kali Pertama, Tulang Manusia Ungkap Keparahan Radiasi Bom Hiroshima

Kompas.com - 02/05/2018, 11:19 WIB
Pada 6 Agustus 1945 jam 08.16 waktu Jepang, sebuah bom atom meledak pada titik 580 meter di atas pusat kota Hiroshima. Sekitar 80 persen wilayah kota hancur. Ledakan membentuk cendawan bom atom. Alliance.dpaPada 6 Agustus 1945 jam 08.16 waktu Jepang, sebuah bom atom meledak pada titik 580 meter di atas pusat kota Hiroshima. Sekitar 80 persen wilayah kota hancur. Ledakan membentuk cendawan bom atom.


KOMPAS.com - 6 Agustus 1945 menjadi hari paling bersejarah di dunia. Saat itu, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima, Jepang. Sekitar 80 persen wilayah hancur dan menewaskan 45.000 jiwa.

Lebih dari 20 tahun berlalu, peneliti menemukan tulang rahang salah satu korban ledakan bom Hiroshima yang berjarak kurang lebih 1,5 kilometer dari hiposenter bom pada 1970-an.

Bagi kaum ilmuwan dan dunia sains, ini adalah temuan penting untuk mengetahui seberapa besar radiasi yang diserap tulang para korban bom.

Analisis yang terbit di jurnal PLOS One (6/2/2018) menunjukkan, dosis radiasi pada tulang rahang sekitar 9,46 gray (Gy). Gy adalah penyerapan satu joule energi radiasi per kilogram materi, yang dalam hal ini adalah tulang.

Baca juga : Memprediksi Efek Uji Coba Bom Hidrogen Korut di Samudra Pasifik

"Bila tubuh terkena radiasi setengahnya saja, atau 5 Gy, sebenarnya risikonya sudah sangat fatal," kata Oswaldo Baffa, profesor di University of São Paulo's Ribeirão Preto School of Philosophy, Science & Letters, dalam sebuah pernyataan dilansir Live Science, Selasa (1/5/2018).

Tulang korban sebagai dosimeter

Temuan sebelumnya telah melihat bagaimana paparan radiasi nuklir yang berisi debu radioaktif dapat memengaruhi DNA dan kesehatan manusia.

Berbeda dari itu, ini adalah kali pertama penelitian yang menggunakan tulang korban sebagai dosimeter atau alat untuk mengukur dosis radiasi pengion yang diserap. Radiasi pengion adalah radiasi yang dapat menimbulkan ionisasi secara langsung.

Mereka menggunakan teknik yang disebut electron spin resonance (ESR). Menurut para ilmuwan ini adalah metode tepat yang dapat mengukur dosis radiasi dalam peristiwa nuklir di masa depan.

"Ada minat baru dalam metodologi semacam ini karena risiko serangan teroris di negara-negara seperti Amerika Serikat," ujar Baffa.

"Teknik ini dapat mengidentifikasi siapa yang terkena dampak radioaktif dan membutuhkan perawatan jika terjadi serangan nuklir," imbuhnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X