Sawit Berkelanjutan, Kuncinya Sains dan Teknologi

Kompas.com - 25/04/2018, 16:27 WIB
Perkebunan kelapa sawit Adolina milik PT Perkebunan Nusantara IV di Sumatera Utara, Kamis (22/3/2018). ARYA DARU PANGAYUNANPerkebunan kelapa sawit Adolina milik PT Perkebunan Nusantara IV di Sumatera Utara, Kamis (22/3/2018).


DENPASAR, KOMPAS.com - Sains dan teknologi bisa menjadi kunci untuk kelapa sawit berkelanjutan asalkan benar-benar dilakukan dengan kaidah ilmiah, sesuai etika, dan tidak bias.

Hal itu terungkap dalam paparan pembukaan International Conference on Oil Palm and Environment ke-6 yang diadakan di Denpasar, Bali, Rabu (25/4/2018) hingga Jumat (27/4/2018) mendatang.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, kelapa sawit saat ini sering dipersalahkan sebab dampak lingkungannya. Sawit tak bisa dipungkiri menjadi sebab utama kebakaran hutan dan lahan.

Namun, meninggalkan kelapa sawit tidak mungkin karena komoditas itu menjadi sumber devisa. Selain itu, minyak kelapa sawit juga menjadi kandidat pertama untuk pemenuhan kebutuhan minyak nabati dunia.

Baca juga : Kadal Raksasa Berkembang Pesat di Perkebunan Sawit Borneo

"Sawit paling efisien, membutuhkan lahan lebih sedikit dibandingkan dengan minyak nabati seperti rapeseed, bunga matahari, dan kedelai," kata Darmin kepada para wartawan.

Menurut Darmin, kepala sawit mampu menghasilkan 12 ton dengan lahan 21,5 juta hektar, sementara kedelai perlu 45,8 juta hektar untuk menghasilkan 0,4 ton minyak kedelai.

Aditya Bayunanda, Direktur Kebijakan, Keberlanjutan, dan Transformasi WWF Indonesia mengutarakan bahwa yang perlu diupayakan adalah kelapa sawit berkelanjutan.

"Inovasi dan teknologi menjadi kunci. Intensifikasi, dan bukan ekstensifikasi, bisa berperan membuat sawit menjadi produk yang lebih berkelanjutan," katanya.

Indonesia yang terletak di wilayah tropis bukan hanya punya tekanan ekonomi meningkatkan jumlah devisa, tetapi juga tekanan untk melestarikan kekayaan biodiversitasnya.

Untuk itu, Aditya mengatakan bahwa upaya mendapatkan uang dari komoditas kelapa sawit harus sejalan dengan usaha pelestarian lingkungan.

Terkait inovasi dan teknologi, President Director Sinarmas Agribusiness and Food Daud Dharsono mengatakan bahwa pihaknya telah menjalin kerjasama riset dengan Pusat Penelitian Pertanian Perancis (CIRAD).

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X