BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Schneider

Bisa Fatal, Lagi Operasi Jantung Tiba-tiba Listrik Mati

Kompas.com - 19/04/2018, 13:03 WIB
Ilustrasi rumah sakit. ShutterstockIlustrasi rumah sakit.
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Pernahkah Anda membayangkan saat listrik tiba-tiba padam sewaktu proses operasi berlangsung di sebuah rumah sakit?

Sudah tentu mengerikan rasanya bila sampai hal itu terjadi. Nyawa seseorang bisa menjadi taruhannya.

Terkait hal di atas, setiap rumah sakit punya cara tersendiri untuk mengantisipasi mati listrik.

Sebagaimana kisah yang dibagikan Direktur Rumah Sakit (RS) Indriati Andrew Santoso dalam Innovation Summit 2018 Schneider Electric, di Jakarta, Rabu (18/4/2018).

Menurut Andrew, rumah sakit selayaknya memiliki mitigasi saat mati listrik. Hal itu krusial agar jangan sampai layanan rumah sakit terganggu, terutama saat operasi.

"Mati listrik adalah mimpi buruk bagi kami (manajemen rumah sakit)," ungkap Andrew.

Untuk mitigasi padamnya listrik, RS Indriati berupaya menyediakan genset.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hanya saja, begitu arus listrik terputus, ada jeda sekitar 7 detik sampai genset menyala. Itu riskan juga untuk pasien yang sedang operasi sehingga kami menambahkan peralatan UPS (uninterruptible power supply)," paparnya.

Selain saat operasi, mati listrik juga bisa menganggu perawatan pasien kanker, jantung, saraf, tulang, dan sebagainya.

Andrew melanjutkan, sebagai rumah sakit yang baru beroperasi sekitar setahun, menjadi penting baginya untuk menjaga kualitas layanan.

Teknologi

Tak hanya menyiapkan mitigasi saat pemadaman listrik, RS Indriati turut menyiagakan 12 teknisi yang terbagi dalam 3 penjadwalan kerja.

Jumlah tersebut, menurut Andrew, memang tidak terlalu banyak untuk ukuran rumah sakit 15 lantai. Maka dari itu, RS Indriati coba menerapkan operasional gedung berbasis teknologi. Misalnya, sistem pengelolaan data EcoStruxure dari Schneider Electric.

"Dengan teknologi tersebut, kami menjadi mudah mengatasi terbatasnya jumlah teknisi. Operasional seperti mengatur pendingin udara serta mengetahui kerusakan panel bisa dilakukan cepat," pungkas Andrew.

Konsultan mekanikal dan elektrikal Setyo Triyono menambahkan, pengoperasian gedung dengan pemanfaatan teknologi sudah menjadi tren saat ini.

Melalui teknologi, imbuh Setyo, pengelola gedung dapat dengan mudah menganalisis biaya operasional serta merancang langkah penghematan di masa mendatang.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.