Tak Hanya Sebagai Obat Kuat, Viagra Berpotensi Cegah Kanker - Kompas.com

Tak Hanya Sebagai Obat Kuat, Viagra Berpotensi Cegah Kanker

Kompas.com - 14/04/2018, 11:33 WIB
Viagra.Shutterstock Viagra.

KOMPAS.com - Viagra selama ini dikenal sebagai obat untuk mengatasi impotensi atau disfungsi ereksi. Tapi siapa sangka jika obat kuat pria ini berpotensi menyelamatkan ribuan nyawa.

Sebuah penelitian terbaru oleh Augusta University, Georgia, AS menunjukkan potensi viagra sebagai "pencegah" kanker. Dengan kata lain, pil biru ini bisa menyelamatkan ribuan nyawa.

Sebelum mendapat temuan ini, mulanya para peneliti mempelajari efek viagra atau sildenafil pada tikus. Mereka menemukan dosis obat harian yang kecil dalam air minum hewan ini secara signifikan mengurangi risiko terkena kanker usus besar (kolorektal).

"Memberi viagra dosis kecil bisa mengurangi jumlah tumor pada hewan-hewan ini hingga setengahnya," ungkap Darren D Browning, seorang ahli biokimia di Augusta University dikutip dari Science Alert, Jumat (13/04/2018).

Baca juga: Bolehkah Penderita Penyakit Jantung Mengonsumsi Viagra?

Meski cukup mengejutkan, perlu diingat sejauh ini hasil tersebut hanya ditunjukkan dalam model binatang. Artinya, hal ini belum dicoba pada manusia.

Namun, inilah langkah tepat yang ingin dicapai oleh tim ini sebagai uji klinis.

Sebagai informasi, uji klinis biasanya dilakukan pada hewan sebelum manusia. Ini untuk mengamati efek samping yang mungkin terjadi pada sebuah terapi atau pengobatan.

Para peneliti berharap percobaan ini mendapat lampu hijau dan efeknya bisa direplikasi pada manusia. Jika hal itu terjadi, viagra berpotensi menyelamatkan ribuan nyawa terutama untuk orang dengan riwayat keluarga terserang kanker kolorektal.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Cancer Prevention Research itu menunjukkan dosis harian viagra mengurangi separuh pembentukkan polip pada jaringan tikus. Polip merupakan gumpalan abnormal sel yang terbentuk pada lapisan usus, yang memiliki kecenderungan menjadi tumor.

Selain menggunakan viagra, para peneliti juga bereksperimen dengan linaclotide. Obat ini biasanya digunakan untuk mengobati sembelit atau sindrim iritasi usus.

Hasilnya, linaclotide lebih efektif daripada viagra untuk mencegah kanker usus besar.

Sayangnya, penggunaan linaclotide menimbulkan efek samping berupa diare. Menurut peneliti, hal ini membuat obat tersebut tidak cocok untuk penggunaan jangka panjang.

Sebaliknya, viagra dalam dosis rendah tidak diketahui menghasilkan efek samping pada manusia. Ini menjadikannya salah satu cara aman dan nyaman untuk menghentikan penyebaran polip.

Baca juga: Bisakah Viagra Atasi Masalah Ejakulasi Dini?

"Ketika kami memberi viagra, kami mengecilkan seluruh kompartemen yang berproliferasi," ujar Browning.

"Sel-sel proliferasi lebih tunduk pada mutasi yang menyebabkan kanter," imbuhnya.

Sebenarnya, ini bukanlah penelitian pertama tentang manfaat kesehatan yang didapat dari viagra. Maka dari itu, para ilmuwan selalu tertarik untuk mempelajari dan meenmukan mekanisme molekuler baru pada obat ini.



Close Ads X