Kompas.com - 10/04/2018, 18:31 WIB
Paus Sperma terdampar dan mati di pantai Spanyol karena sampah platik pada Februari 2018. Paus Sperma terdampar dan mati di pantai Spanyol karena sampah platik pada Februari 2018.


KOMPAS.com - Akhir Februari lalu, seekor paus sperma jantan muda ditemukan terdampar dan mati di pantai Murcian, Spanyol selatan.

Sejumlah peneliti kemudian melakukan otopsi terhadap paus tersebut untuk memastikan penyebab kematiannya.

Peneliti mengungkap, mereka menemukan sampah plastik seberat 29 kilogram di perut dan usus paus. Sampah manusia itu meliputi potongan tali, jaring, kantong plastik, karung rafia, dan jeriken plastik.

Para ahli dari Pusat Penyelamatan Satwa El Valle pun percaya bahwa paus yang memiliki panjang 10 meter dan berat sekitar 6,6 ton itu meninggal akibat mengalami peradangan pada dinding bagian dalam perut yang dsebut peritonitis.

Baca juga : 150 Paus Pilot Terdampar di Pantai Australia, Apa Artinya Bagi Kita?

Peritonitis umumnya dipicu oleh infeksi bakteri atau jamur. Dalam kasus paus, peneliti menduga peritonitis muncul karena sejumlah besar plastik yang tidak dapat dicerna.

Plastik yang dimakan paus sperma, termasuk sebuah jeriken. Plastik yang dimakan paus sperma, termasuk sebuah jeriken.

Tragisnya, paus mati karena menelan plastik bukanlah kasus pertama. Pada 2016, satu dari 13 paus sperma yang terdampar di pantai memiliki perut yang dipenuhi sampah manusia, termasuk jaring nelayan sepanjang 13 meter dan plastik sepanjang 70 sentimeter. Pada 2017 juga ada paus lain yang mati dengan 30 kantong plastik di dalam perutnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ancaman semakin banyak spesies laut yang mati karena sampah laut mungkin semakin nyata jika manusia tidak melakukan perubahan.

Apa lagi tercatat ada 5,2 triliun ton plastik mengambang di lautan dunia, termasuk laut jauh seperti laut Arktik dan laut dalam. Mungkin pada 2025 nanti angka tersebut akan meningkay sampai tiga kali lipat dan 2050 jumlah sampah plastik di laut lebih banyak dari jumlah populasi ikannya.

Dilansir IFL Science, Senin (9/4/2018), dunia telah memperhatikan ancaman ini. Uni Eropa baru-baru ini mengumumkan strategi yang digunakan untuk menangani sampah plastik yang bertujuan agar semua sampah plastik dapat digunakan kembali atau didaur ulang pada 2030. PBB juga telah berkomitmen untuk mengakhiri polusi plastik.

Baca juga : Makin Mengerikan, Tiap Tahun 1.000 Penyu Mati akibat Sampah Plastik

"Banyak hewan terperangkap dalam sampah atau menelan plastik dalam jumlah besar yang menyebabkan kematian mereka. Sebab itu kami melakukan kampanye untuk melindungi kehidupan laut dari polusi plastik dan mencegah pembuangan sampah ke laut," ujar Direktur Jenderal Lingkungan Hidup Consuelo Rosauro di pemerintahan Murcian, Spanyol, kepada Telegraph, Jumat (6/4/2018).

"Sampah plastik adalah ancaman terbesar yang memengaruhi kehidupan laut," tegasnya.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.