Diberhentikan jadi Anggota, Pembelaan Terawan Ditunggu IDI

Kompas.com - 04/04/2018, 20:35 WIB
Kepala RSPAD Gatot Subroto Mayjen TNI dokter Terawan Agus Putranto. Bidik layar Kompas TVKepala RSPAD Gatot Subroto Mayjen TNI dokter Terawan Agus Putranto.

KOMPAS.com - Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, dokter Terawan Agus Putranto, diberhentikan sementara dari keanggotan Ikatan Dokter Indonesia ( IDI). Selain itu, rekomendasi praktik bagi dokter yang terkenal dengan terapi cuci otaknya ini juga dicabut sementara.

Hukuman yang dikeluarkan oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) ini berlaku maksimal satu tahun, yakni dari 26 Februari 2018 hingga 25 Februari 2019. Keputusan ini diambil lantaran Terawan ketahuan melanggar kode etik dan sumpah dokter.

Sekretaris MKEK, Pukovisa Prawiroharjo menyerahkan eksekusi dari keputusan tersebut ke tangan IDI pusat, IDI wilayah, IDI cabang, serta Perhimpunan Dokter Spesialis Radiologi Indonesai(PDSRI) yang menaungi Terawan.

Pasalnya, MKEK hanya menjalankan fungsi yudikatif dalam organisasi profesi kedokteran tersebut, sedangkan wewenang eksekutif adalah milik IDI.

Baca juga : Soal Etika yang Dilanggar Dokter Terawan, MKEK IDI Bungkam

“MKEK itu menyelenggarakan persidangan dan membuat keputusan yang baik dan adil. Jadi, sudah selesai tugasnya,” ujar Pukovisa saat dihubungi Kompas.com pada Rabu (4/4/2018).

Keputusan MKEK rupanya telah diketahui oleh Ketua IDI, Daeng Muhammad Faqih. Daeng menyebut, langkah selanjutnya yang akan ditempuh IDI yakni menantikan pembelaan dari Terawan. Langkah ini merupakan upaya memberikan keadilan terhadap kedua pihak, antara MKEK dan Terawan.

“Terawan didorong untuk memanfaatkan kesempatan pembelaan. Secara tertulis memang tidak tertuang batasan waktunya,” kata Daeng kepada Kompas.com pada Rabu (4/4/2018).

Namun, ini bukan berarti Terawan bebas berlama-lama tidak menyatakan pembelaan diri. IDI akan terus mengejar Daeng hingga akhirnya mau buka suara. Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan pihak terkait agar Terawan segera angkat bicara.

Baca juga : Terapi Cuci Otak Dokter Terawan Bisa Obati Stroke? Ini Kata Ahli

Pembelaan yang diajukan Terawan sekaligus untuk mengetahui penyebab yang bersangkutan melanggar kode etik. Hasil itu nantinya akan mengarah pada kebijakan berikutnya, kendati bukan lagi ranah IDI.

Daeng mengatakan, apabila Terawan tidak hanya melanggar aspek etika, tapi juga hukum; tentu ini sudah harus melibatkan pemerintah melalui Kementerian Kesehatan.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X