Kompas.com - 02/04/2018, 21:05 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com - Kanker hingga kini menjadi salah satu penyakit paling mematikan di dunia. Dalam upaya penanggulangan kanker, para ilmuwan terus mengembangkan obat baru untuk kanker.

Obat kanker paling baru yang dikembangkan baru-baru ini mencoba menargetkan gen fusi (gen penyusup). Gen ini ditemukan pada banyak jenis kanker.

Para ilmuwan menyebut, dalam pengujian yang dilakukan pada pasien anak, hasilnya kefektifan obat ini mencapai 93 persen.

Uniknya, obat ini tidak seperti obat kanker yang telah ada. Biasanya, obat kanker ditargetkan pada organ atau lokasi tertentu di tubuh.

Baca juga: Diare Tiap Hari, Perempuan Ini Tak Sadar Derita Kanker Kolon

Sedangkan Larotrectinib merupakan obat kanker pertama untuk pasien dengan fusi spesifik dua gen dalam sel kanker, tanpa peduli jenis kankernya. Selain itu, obat ini juga ditunjuk langsung sebagai terapi terobosan oleh Badan Obat dan Makanan AS (FDA).

"Dalam beberapa jenis kanker, bagian dari gen TRK telah menjadi melekat pada gen lain, yang disebut dengan fusi," ungkap Ted Laetsch, asisten profesor di University of Texas Southwestern Medical Center dikutip dari The Times of India, Senin (02/04/2018).

"Hal uang unik tentang obat ini adalah selektifnya, (obat) ini hanya memblokir reseptor TRK," imbuh Laetsch yang merupakan penulis utama penelitian ini.

Dalam laporannya yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Oncology, para peneliti menyebut bahwa obat ini menargetkan fusi TRK, gen yang terjadi pada banyak jenis kanker.

Sayangnya, fusi TRK ini hanya terjadi pada sebagian kecil penderita kanker dewasa. Fusi TRK justru sering terjadi pada beberapa kanker anak yang langka seperti fibrosarkoma infantil, nefroma mesoblastik kongenital seluler, hingga kanker tiroid papiler.

"Setiap pasien dengan tumor padat fusi TRK positif dirawat hingga mengalami penyusutan pada penelitian ini. Tingkat respons hampir universal yang terlihat dengan larotrektinib ini belum pernah terjadi sebelumnya," kata Laetsch.

Karena hasil yang bagus pada anak-anak, para peneliti kemudian menguji coba obat ini pada dewasa. Percobaan kedua yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine ini menunjukkan tingkat respons hingga 75 persen.

Baca juga: Interstitium, Organ Tersembunyi yang Bisa Jelaskan Kanker

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mengenal Gejala KIPI Vaksin Anak dan Cara Penanganannya Usai Vaksinasi

Mengenal Gejala KIPI Vaksin Anak dan Cara Penanganannya Usai Vaksinasi

Oh Begitu
[POPULER SAINS]: Dahsyatnya Letusan Gunung Tonga | Misteri Mumi Hamil | Peringatan Dini Gelombang Tinggi | Getaran Gempa Banten

[POPULER SAINS]: Dahsyatnya Letusan Gunung Tonga | Misteri Mumi Hamil | Peringatan Dini Gelombang Tinggi | Getaran Gempa Banten

Oh Begitu
Waspada Dehidrasi pada Bayi, Ini Gejala dan Penyebabnya

Waspada Dehidrasi pada Bayi, Ini Gejala dan Penyebabnya

Kita
Mengenal Stroke Non Hemoragik, Jenis Stroke yang Paling Sering Terjadi

Mengenal Stroke Non Hemoragik, Jenis Stroke yang Paling Sering Terjadi

Kita
Gurita Selimut Betina Ternyata Berukuran Lebih Besar dari Gurita Jantan

Gurita Selimut Betina Ternyata Berukuran Lebih Besar dari Gurita Jantan

Oh Begitu
Resistensi Antimikroba Ancam Kesehatan Dunia, Apa yang Bisa Dilakukan?

Resistensi Antimikroba Ancam Kesehatan Dunia, Apa yang Bisa Dilakukan?

Oh Begitu
Proses Seleksi Jadi Ratu Lebah Sungguh Brutal, Seperti Apa?

Proses Seleksi Jadi Ratu Lebah Sungguh Brutal, Seperti Apa?

Oh Begitu
Ketahui, Begini Komposisi Pangan Seimbang untuk Mencegah Stunting

Ketahui, Begini Komposisi Pangan Seimbang untuk Mencegah Stunting

Oh Begitu
Pengujian Perangkat Lunak Sukses, Misi Artemis 1 NASA Semakin Dekat dengan Bulan

Pengujian Perangkat Lunak Sukses, Misi Artemis 1 NASA Semakin Dekat dengan Bulan

Fenomena
Peneliti PRBM Eijkman Sebut Riset Vaksin Merah Putih Masih Berjalan untuk Segera Diproduksi

Peneliti PRBM Eijkman Sebut Riset Vaksin Merah Putih Masih Berjalan untuk Segera Diproduksi

Oh Begitu
Gejala Omicron pada Anak yang Perlu Anda Waspadai

Gejala Omicron pada Anak yang Perlu Anda Waspadai

Kita
Hujan Es Melanda Bogor dan Tasikmalaya, Begini Proses hingga Dampaknya

Hujan Es Melanda Bogor dan Tasikmalaya, Begini Proses hingga Dampaknya

Oh Begitu
Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Kita
Hujan Es di Bogor dan Tasikmalaya, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Besok

Hujan Es di Bogor dan Tasikmalaya, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Besok

Fenomena
Booster 89 Persen Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron, Ini Penjelasan Ahli

Booster 89 Persen Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron, Ini Penjelasan Ahli

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.