Kompas.com - 23/03/2018, 19:04 WIB
Gajah Asia berukuran lebih kecil dibanding gajah Afrika. Google ImageGajah Asia berukuran lebih kecil dibanding gajah Afrika.

KOMPAS.com – Para peneliti dari Smithsonian Conservation Biology Institute (SCBI) terkejut. Gajah-gajah asia di Myanmar yang mereka pasangi GPS satu per satu mati dalam waktu yang singkat. Ketika diselidiki, mereka menemukan bangkai-bangkai gajah tak berkulit di seluruh penjuru hutan.

Rupanya, gajah-gajah ini adalah korban perburuan liar untuk diambil kulitnya.

Perburuan liar terhadap gajah sebenarnya bukan hal baru. Di Afrika, hal ini justru masalah besar karena sampai mengurangi jumlah populasi gajah di sana hingga tinggal 70 persen dalam tujuh tahun terakhir. Namun, mayoritas gajah di Afrika diburu untuk gadingnya.

Sementara itu, gajah Asia yang jarang memiliki gading (hanya 20-35 persen gajah Asia jantan yang punya gading) tidak seterancam saudara mereka di Afrika. Masalah terbesar mereka adalah hilangnya habitat yang memaksa gajah Asia untuk keluar dari hutan sehingga terlibat dalam konflik dengan manusia.

Baca juga : Gajah Mati dengan Gading Terpotong

Namun, semua itu berubah ketika sasaran para pemburu gajah di Asia berganti menjadi kulit.

Dalam jurnal PLOS One, para peneliti berkata bahwa dari 19 gajah di hutan seluas 35 kilometer persegi yang dipasangi GPS, tujuh di antaranya mati dalam setahun karena diburu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hal ini juga dikonfirmasikan oleh petugas patroli konservasi pemerintah Myanmar yang menemukan hasil serupa di pusat dan selatan negara tersebut.

Lebih parahnya, para pemburu liar tidak pandang bulu. Gajah jantan, betina, maupun yang masih anak-anak dibantai untuk diambil kulitnya.

Padahal, gajah adalah salah satu hewan yang paling lambat untuk bereproduksi, dan membantai betina dan anak-anak adalah cara tercepat untuk menjerumuskan hewan ini ke dalam kepunahan.

Baca juga : Menguak Kisah Kedatangan Gajah Kerdil Borneo di Tanah Kalimantan

Peter Leimbruger, ketua Pusat Konservasi Ekologi SCBI yang memimpin studi ini, mengatakan, ini sangat mengejutkan. Aku telah bekerja dengan gajah di Myanmar selama 20 tahun dan tidak pernah mengira bahwa perburuan liar akan menjadi masalah besar.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.