Mengapa Masih Ada Orang yang Melakukan Bom Bunuh Diri? Sains Jelaskan

Kompas.com - 21/03/2018, 19:05 WIB
stop teror/pixabay stop teror/pixabaystop teror/pixabay

KOMPAS.com - Mengapa seseorang rela berkorban nyawa demi kelompok atau ideologi mereka? Apa yang mendorong mereka melakukan hal tersebut?

Banyak orang berpendapat bahwa individu-individu ini melakukan tindakan ekstrem tersebut demi predikat sebagai pahlawan atau teroris. Namun di balik semua itu, ada proses psikologi yang disebut penyatuan jati diri dengan kelompok.

Harvey Whitehouse, peneliti dari Universitas Oxford, menjelaskan bahwa penyatuan jati diri berperan besar dalam mendorong seseorang untuk rela mati demi kelompok dan keyakinan agama mereka.

Perasaan itu muncul karena adanya pengalaman berbagi dalam setiap peristiwa dengan melibatkan emosi secara mendalam dan membentuk keinginan untuk hidup dan mati bersama, kata Bill Swann, psikolog sosial dari Universitas Texas yang pertama kali mencetuskan teori ini.

Baca Juga: Studi pada Monyet Tunjukkan Kenapa Kita Tidak Perlu Takut Konflik

Penjelasan tersebut berbeda dengan teori-teori sebelumnya yang menjelaskan bahwa motivasi seseorang berperilaku ekstrem adalah identitas kolektif, permusuhan dengan lawan, kedekatan psikologis dengan kerabat, dan pengaruh gangguan mental.

Whitehouse dan timnya dari Centre for Anthropology and Mind melakukan penelitian terhadap sejumlah kelompok militan, seperti kelompok fundamentalis Islam, dan kelompok garis keras lainnya, seperti suporter bola, klub bela diri, milisi suku, dan kelompok sipil bersenjata.

Mereka melakukan pengamatan langsung di lapangan, survei, dan wawancara dengan kelompok yang sejumlah anggotanya tewas saat bertempur demi kepentingan kelompok, seperti kelompok sipil bersenjata di Libya dan tentara yang bertugas di Afghanistan dan Irak.

Studi mengungkapkan, persamaan pandangan bahwa setiap anggota kelompok adalah saudara sehidup semati yang harus berbagi kebersamaan dalam setiap peristiwa memunculkan keinginan melindungi satu sama lain yang dapat mendorong pengorbanan diri.

Untuk itu, Whitehouse berkata bahwa memahami munculnya rasa persaudaraan di dalam kelompok ekstrem terlihat lebih masuk akal daripada menyalahkan pemahaman ekstrem sebuah agama dalam usaha untuk menciptakan respons antiterorisme yang lebih efektif. 

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X