Kompas.com - 19/03/2018, 19:04 WIB
Puskesmas Kanjilo saat mendatangi langsung pasien kusta. Dokumentasi Nurhayati Shela KusumaningtyasPuskesmas Kanjilo saat mendatangi langsung pasien kusta. Dokumentasi Nurhayati

GOWA, KOMPAS.com - Puskesmas Kanjilo, Kecamatan Barombongan, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan memiliki program Intensive Case Finding untuk menemukan pasien kusta di wilayah tersebut.

Cara ini dilakukan dengan melibatkan dokter dan para kader untuk turun langsung mendatangi pasien dan masyarakat yang terindikasi kusta. Kunjungan langsung juga termasuk upaya untuk membujuk pasien kusta agar bersedia melanjutkan pengobatan.

Dalam tiga bulan pertama pada tahun 2018, program ini telah berhasil ditemukan enam pasien kusta.

Namun, prosesnya tidak selalu lancar. Pemegang program pemberantasan kusta di puskesmas tersebut, Nurhayati, di Gowa pada Sabtu (17/3/2018) berkata bahwa ada beberapa kendala yang dihadapi oleh kader Intensive Case Finding ketika menjalankan tugas.

Pertama adalah penerimaan pasien atas penyakitnya. Para kader kerap kali harus menghadapi pasien yang menangis. Pasalnya, pasien tidak menyangka akan didiagnosis kusta, sebuah penyakit yang masih dianggap sebagai momok oleh sebagian orang.

Baca juga : Cerita Sohra, Mantan Pasien Kusta yang Lumpuh karena Berobat ke Dukun

“Sejak diberi tahu terkena kusta, pasien malah tidak mau berobat,” ujarnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tidak hanya pasien yang cenderung menolak atas penyakitnya, keluarga terdekat pun terbawa sikap pasien tersebut.

Salah satu yang paling diingat Nurhayati adalah salah satu istri pasien yang sampai menyebarkan cerita keraguannya atas penyakit yang diidap sang suami. Perilaku seperti ini menghambat pengobatan.

Selain itu, ada juga pasien yang tidak menuruti anjuran untuk menghabiskan obat dalam waktu satu bulan. Pasien tersebut juga tidak datang ke puskesmas pada jadwal pengambilan obat berikutnya. Kader akhirnya menyinggahi rumah pasien.

“Obat malah dibuat mainan anak-anak karena masih belum terima kalau sakit kusta,” kata Nurhayati.

Pasien lalu diberikan pemahaman bahwa pengobatan rutin mampu menekan risiko kecacatan karena kusta.

Baca juga : Kisah Ernawati Menaklukkan Kusta yang Menggerogoti Tubuhnya

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.