Dukung Kiprah Perempuan, 45 Persen Peneliti LIPI Kaum Hawa

Kompas.com - 10/03/2018, 18:06 WIB
Enny Sudarmonowati (kanan) Shela Kusumaningtyas/Kompas.comEnny Sudarmonowati (kanan)

KOMPAS.com - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mendukung kiprah perempuan di bidang riset. Hal ini dibuktikan dengan hampir 45 persen peneliti LIPI merupakan kaum hawa.

Enny Sudarmonowati, Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI mengungkapkan, peneliti yang ada di LIPI mencapai 1750. Dari jumlah tersebut, 779 di antaranya merupakan perempuan.

Perempuan juga menduduki jabatan strategis di LIPI. Enny menjadi salah satu dari dua perempuan yang mengemban posisi deputi di LIPI.

Enny bahkan digadang-gadang menjadi ketua LIPI berikutnya. Jika Enny terpilih, dia akan mengukir sejarah baru di LIPI sebagai perempuan pertama yang didapuk sebagai kepala LIPI.

Baca juga : LIPI Targetkan Rilis Indeks Kesehatan Mangrove dan Lamun pada 2019

Beberapa satuan kerja di LIPI juga dipimpin perempuan, misalnya Pusat Penelitian Kependudukan, Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan, Pusat Perkembangan IPTEK, Pusat Penelitian Fisika, Pusat Dokumentasi Ilmiah, Balai Media dan Reproduksi LIPI, dan Biro Kerjasama Hukum dan Humas.

Apa rahasianya?

Menurut Enny, laki-laki atau perempuan yang bekerja di LIPI tidak dibedakan. Keduanya sama-sama didorong untuk menghasilkan karya. Kendati demikian, perempuan cenderung punya minat besar terhadap ilmu pengetahuan dan dianggap punya tingkat ketelitian yang lebih tinggi dibanding laki-laki.

“Misalnya, di bidang genetika molekuler atau mikrobiologi. Banyak perempuan di sana. Perempuan biasanya lebih tekun dan teliti meneliti hal-hal kecil. Kalau yang kecil-kecil atau kaitannya dengan mikroskop banyak perempuan,” kata Enny dalam acara peringatan hari perempuan sedunia di LIPI, Jakarta, pada Kamis (8/3/2018).

Baca juga : LIPI Luncurkan Pusat Data Nasional Ekosistem Pesisir

LIPI sendiri berupaya melengkapi laboratorium yang ada untuk menarik keinginan para perempuan peneliti agar giat berkarya. Dengan demikian, semakin banyak prestasi yang ditorehkan peneliti perempuan.

Enny mengakui, tidak mudah menjadi perempuan sekaligus peneliti. Banyak tantangan yang menghadang termasuk soal manajemen waktu.

Perempuan, apalagi yang sudah bekeluarga pasti dihadapkan dengan urusan rumah tangga. Peneliti perempuan pun seperti itu. Namun, itu bukan jadi kendala berarti. Hal ini lantaran, menurut Enny, perempuan dibekali kemampuan untuk mengerjakan banyak pekerjaan sekaligus (multitasking).

“Perempuan itu unggul secara multitasking. Yang diperlukan adalah mengasahnya. Jangan sampai kerjaan sebagai peneliti mengganggu keluarga. Harus pintar bagi waktu,” tegasnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X