Kompas.com - 07/03/2018, 07:07 WIB

KOMPAS.com -- Dasar laut Antartika menyimpan sejumlah misteri. Selama 120.000 tahun lamanya, dasar laut tersebut diselubungi es tebal. Namun, pencairan es yang berpotensi mengubah ekosistem bawah laut ini memaksa para ilmuwan untuk segera menyelidiknya.

Tim peneliti yang merupakan gabungan dari sembilan kelompok peneliti kutub di Australia dan Eropa pun segera berangkat ke sana. Sayangnya, para peneliti menemui ganjalan.

British Antarctic Survey (BAS) mengumumkan pada hari Jumat (2/3/2018) bahwa di tengah perjalanan, para peneliti terpaksa berbalik arah ke utara lantaran lapisan es setebal lima meter menghalangi langkah mereka menuju paparan es Larsen C bagian selatan. Es setebal itu membuat kapal hanya bisa melaju beberapa mil sehari.

“Kami mengerti mengarungi lautan es untuk sampai ke Larsen C itu sulit. Kecewa itu pasti karena tidak berhasil ke sana. Namun, keamanan tetap yang utama,” ujar Katrin Linse, ketua ekspedisi BAS sekaligus pakar biologi kelautan, seperti yang dilansir dari Live Science pada Senin (5/3/2018).

Baca juga : Ekspedisi Dunia Tersembunyi Antartika Berlanjut, Ada Apa di Sana?

“Kapten dan kru kapal telah berusaha dengan sangat luar biasa untuk mencapai ke lempengan es tersebut. Sayangnya, perjalanan terlalu lambat. Jarak yang dicapai hanya bisa delapan kilometer sehari, sedangkan kami harus menempuh lebih dari 400 kilometer lagi untuk tiba di sana. Alam belum berpihak ke misi kami,” imbuhnya.

Semula, para peneliti ingin menjadi yang pertama menjelajahi wilayah dasar laut Antartika yang ditutupi oleh gunung es berukuran 5.800 kilometer persegi. Gunung es itu terlepas dari paparan es Larsen C sejak Juli 2017.

Ilmuwan BAS mengungkap bahwa ekosistem dasar laut di Antartika sangat menarik dipelajari karena keunikannya.

Selama 120.000 tahun, dasar laut di sana terselimuti lapisan es sehingga benar-benar gelap dan nyaris terisolasi dari lautan lepas. Para ilmuwan harus berpacu dengan waktu karena sinar matahari akan semakin menembus kawasan tersebut seiring semakin lepasnya gunung es A-68.

Baca juga : NASA Rekam Pecahnya Gunung Es di Antartika, Apa Penyebabnya?

Kini, para peneliti mesti menanti musim dingin berikutnya di Antartika pada 2019 medatang untuk mencoba mencapai tepian lempeng es di dasar Antartika.

Selagi menunggu, para peneliti akan menjelajahi Larsen A dan Lempeng Es Prince Gustav Channel yang terpecah pada tahun 1995.

Linse menambahkan juga bahwa mereka akan mengumpulkan sampel makhluk laut hingga kedalaman 1.000 meter, lebih dalam dari rancangan misi Larsen C.

“Kami punya rencana lain, menuju ke utara, daerah yang belum pernah dijadikan sampel untuk keanekaragaman hayati laut dalam,” ujar Linse.

Nantinya, sampel hewan dasar laut, mikroba, plankton, bebatuan, dan air yang ditemukan di sana bisa dijadikan rujukan soal keberagaman biota dasar laut. Selain itu, bisa digunakan untuk menjawab secara tepat tentang kapan sebenarnya lempeng es di timur Semenanjung Antartika saling terlepas.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.