Kompas.com - 03/03/2018, 18:07 WIB
Ilustrasi paru-paru yodiyimIlustrasi paru-paru

KOMPAS.com -- Pada 1 Januari 2018, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyetujui obat berjenis pirfenidone yang diproduksi perusahaan Roche Indonesia. Obat tersebut ditujukan kepada penderita fibrosis paru.

Dettie Yuliati, Direktur Pelayanan Kefarmasian, Kementerian Kesehatan, mengatakan dalam acara temu media yang digelar Roche Indonesia di Jakarta pada Jumat (2/3/2018), kami harus memberikan akses obat untuk penyakit langka. (Pirfenidone) tergolong orphan medicine, tetapi belum masuk ke formularium nasional.

"Asosiasi pengampu dokter harus mengajukan beserta laporan data-data penderita jika ingin dimasukkan daftar formularium nasional,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Sita Andarini, Ketua Kelompok Kerja Interstitial Lung Disease, menyatakan persetujuan dari BPOM atas obat tersebut merupakan kabar baik bagi penderita penyakit fibrosis paru, mengingat pasien dengan penyakit langka tersebut memang sangat bergantung pada obat-obatan seumur hidupnya.

Baca juga : Hati-Hati, Orang Lanjut Usia Rentan Terkena Penyakit Fibrosis Paru

Selama ini, pasien penderita penyakit fibrosis paru kesulitan mendapatkan akses pengobatan yang memadai. Penanganan umumnya hanya berupa pemberian terapi oksigen. Ini tentu memperburuk kondisi pasien karena penyebaran luka parut pada jaringan paru cukup progresif.

“Padahal,di Jepang sudah ada studi klinis soal obat pirfenidone sejak tahun 2004. Di Amerika Serikat sudah ada sejak tahun 2014. Akhirnya, di Indonesia sudah mendapatkan obat tersebut dengan jalur fast track,” kata Sita.

Pirfenidone disediakan berbentuk tablet yang harus diminum pasien selama tiga kali dalam sehari, yakni pagi, siang, dan malam. Obat ini diminum dalam kondisi perut kosong, bisa satu jam sebelum makan atau dua jam sesudah makan. Pasien juga dilarang memakan jeruk bali karena efek keasaman pada jeruk bisa mengacaukan kerja obat.

Baca juga : Gejala Mirip Penyakit Lain, Fibrosis Paru Kerap Telat Didiagnosis

Sita mengingatkan bahwa pasien juga harus meminum obat tersebut terpisah dengan pemberian obat jenis lain. Konsumsi obat diusahakan jangan dibarengi dengan obat golongan aminovel. Obat ini hanya boleh diminumkan bagi pasien dengan indikasi fibrosis paru.

“Penderita fibrosis paru, kapasitas paru-parunya mengalami laju penurunan yang cepat yakni 200 mililiter per tahun. Dengan obat ini, laju penurunan tersebut bisa dicegah. Memang ada efek samping seperti reaksi di kulit dan sensitifitas terhadap cahaya matahari,” imbuhnya.

Perlu diketahui, penyakit fibrosis paru ditandai dengan adanya luka parut pada pada jaringan paru-paru. Akibatnya, oksigen tertahan masuk ke paru-paru dan terhambat disalurkan ke organ-organ tubuh oleh darah. Pasien akan mengalami sesak napas berat dan penurunan fungsi kerja tubuh.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tanda dan Gejala Kanker Ovarium yang Harus Dicurigai

Tanda dan Gejala Kanker Ovarium yang Harus Dicurigai

Oh Begitu
Karakteristik Hutan Mangrove yang Harus Kamu Ketahui

Karakteristik Hutan Mangrove yang Harus Kamu Ketahui

Oh Begitu
Tren Peningkatan Kasus Covid-19 di Indonesia, Apakah Akibat Omicron? Ini Kata Kemenkes

Tren Peningkatan Kasus Covid-19 di Indonesia, Apakah Akibat Omicron? Ini Kata Kemenkes

Oh Begitu
Studi Ungkap Polusi Nanoplastik Pertama Kali Terdeteksi di Kutub Bumi

Studi Ungkap Polusi Nanoplastik Pertama Kali Terdeteksi di Kutub Bumi

Fenomena
3 Tahapan Metamorfosis Tidak Sempurna

3 Tahapan Metamorfosis Tidak Sempurna

Oh Begitu
Pengertian Sabana serta Contoh Flora dan Faunanya

Pengertian Sabana serta Contoh Flora dan Faunanya

Oh Begitu
Gempa Talaud Hari Ini Sudah 9 Kali Susulan, BMKG Tegaskan Bukan Gempa Megathrust

Gempa Talaud Hari Ini Sudah 9 Kali Susulan, BMKG Tegaskan Bukan Gempa Megathrust

Fenomena
Gempa Terkini: M 6,1 Guncang Talaud, Ini Catatan Gempa yang Pernah Terjadi di Sulawesi Utara

Gempa Terkini: M 6,1 Guncang Talaud, Ini Catatan Gempa yang Pernah Terjadi di Sulawesi Utara

Fenomena
Indonesia Didorong Jadi Lumbung Pangan Dunia Lewat Studi Pertanian

Indonesia Didorong Jadi Lumbung Pangan Dunia Lewat Studi Pertanian

Oh Begitu
Sejarah Penemuan Termometer: Penemu dan Perkembangannya

Sejarah Penemuan Termometer: Penemu dan Perkembangannya

Oh Begitu
Bagaimana Bulan Bisa Bersinar Terang di Malam Hari?

Bagaimana Bulan Bisa Bersinar Terang di Malam Hari?

Oh Begitu
Penyakit Tifus: Penyebab, Gejala, dan Jenis-jenisnya

Penyakit Tifus: Penyebab, Gejala, dan Jenis-jenisnya

Kita
Kabar Baik, Populasi Jerapah Meningkat 20 Persen, Ini Kata Ilmuwan

Kabar Baik, Populasi Jerapah Meningkat 20 Persen, Ini Kata Ilmuwan

Fenomena
[POPULER SAINS]: Penyebab Letusan Gunung Krakatau 1883 | Karbon Purba Mars | Fenomena Aphelion | Gunung Merapi Semburkan Awan Panas

[POPULER SAINS]: Penyebab Letusan Gunung Krakatau 1883 | Karbon Purba Mars | Fenomena Aphelion | Gunung Merapi Semburkan Awan Panas

Oh Begitu
Hasil Tes Covid dari Alat RT-LAMP BRIN Diklaim Bisa Keluar Kurang dari Satu Jam

Hasil Tes Covid dari Alat RT-LAMP BRIN Diklaim Bisa Keluar Kurang dari Satu Jam

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.