Mengenal Faktor Risiko Kanker Paru lewat Kasus Humas BNPB Sutopo

Kompas.com - 14/02/2018, 20:30 WIB
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho memberikan keterangan pers terkait perkembangan dan penanganan erupsi Gunung Agung di Gedung Graha BNPB, Jakarta, Senin (27/11/2017). Status Gunung Agung dinaikkan dari status SIAGA menjadi AWAS dan  menetapkan radius aman bagi masyarakat menjadi 10 kilometer dari puncak kawah. ANTARA FOTO/Khairun NisaKepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho memberikan keterangan pers terkait perkembangan dan penanganan erupsi Gunung Agung di Gedung Graha BNPB, Jakarta, Senin (27/11/2017). Status Gunung Agung dinaikkan dari status SIAGA menjadi AWAS dan menetapkan radius aman bagi masyarakat menjadi 10 kilometer dari puncak kawah.

KOMPAS.com - Kanker, terutama kanker paru, merupakan salah satu penyakit yang hingga kini menjadi momok bagi banyak orang. Bahkan, hanya 15 persen penderita kanker paru yang mampu bertahan hidup hingga lima tahun sejak terdeteksi.

Di antara semua hal tentang kanker paru, yang paling menjadi sorotan adalah penyebabnya. Selama ini dikenal rokok sebagai salah satu faktor risiko utama kanker paru.

Namun, banyak orang yang tak merokok juga divonis menderita penyakit tersebut.

Pada kasus kanker paru yang diderita Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, misalnya. Sutopo menyebut bahwa selama ini dia tak merokok.

"Dokter bilang saya kanker paru-paru stadium 4 pertengan Januari lalu. Awalnya shock karena saya tidak merokok, genetic tidak ada dan makan sehat," kata Sutopo melalui pesan singkat kepada Kompas.com, Senin (12/02/2018).

Baca juga: Selain Rokok, Ini Faktor Risiko Pemicu Kanker Paru

Lalu apa sebenarnya yang menjadi faktor risiko pemicu kanker paru?

Menurut Deputi British Lung Foundation, Stephen Spiro, kanker paru-paru selalu dihubungkan dengan merokok. Padahal sebelum kebiasaan merokok menyebar pada awal abad 20, penyakit ini kerap menimpa wanita bukan perokok.

Faktor Lingkungan

Pendapat serupa juga diungkapkan oleh Elisna Syahruddin dari Departemen Pulmonologi dan Ilmu Respiratori, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia. Elisna menerangkan bahwa masih banyak faktor lain yang melatari seseorang mengidap kanker paru.

Dia menjelaskan, masyarakat yang bermukim di kawasan dengan tingkat polusi indoor maupun outdoor tinggi juga berpotensi besar menderita kanker paru.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X