Temuan Baru, Atlet Wanita Lebih Mungkin Mengalami Gegar Otak

Kompas.com - 09/02/2018, 09:09 WIB
Atlet renang indah beraksi saat test event CIMB Niaga Indonesia Open Aquatic Championship di Stadion Aquatic Gelora Bung Karno, Senayan, Rabu, Jakarta Pusat (6/12/2017). Test event bertajuk CIMB Niaga Indonesia Open Aquatic Championship 2017 itu akan digelar pada 5-15 Desember mendatang dan juga bertujuan menyeleksi atlet untuk pelatnas Asian Games 2018 dan SEA Games 2019. KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGAtlet renang indah beraksi saat test event CIMB Niaga Indonesia Open Aquatic Championship di Stadion Aquatic Gelora Bung Karno, Senayan, Rabu, Jakarta Pusat (6/12/2017). Test event bertajuk CIMB Niaga Indonesia Open Aquatic Championship 2017 itu akan digelar pada 5-15 Desember mendatang dan juga bertujuan menyeleksi atlet untuk pelatnas Asian Games 2018 dan SEA Games 2019.


KOMPAS.com - Belakangan banyak muncul penelitian terkait risiko kesehatan terhadap olahraga. Salah satunya adalah risiko gegar otak seperti yang banyak dialami para atlet.

Sebuah penelitian yang dipimpin oleh Profesor Jacob Resch dari Curry School of Education, Universitas Virginia, mencoba memberi penjelasan yang tidak bias dan menyeluruh terkait dengan perbedaan risiko gegar otak pada atlet pria dan wanita.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Clinics in Sports Medicine pada Oktober 2017 menemukan hal yang mungkin mengejutkan, yakni atlet wanita jauh lebih berisiko mengalami gegar otak dibanding atlet pria juga memiliki gejala yang lebih parah.

Resch dan rekannya menganalisis hampir 160 penelitian terkait gegar otak pada atlet wanita dan pria. Sebagian besar penelitian meneliti telah atlet basket, hoki, dan sepak bola.

Baca juga : Mengapa Ada Orang yang Alergi jika Olahraga? Ini Alasannya

Pengamatannya meliputi tiga tahap gegar otak, yakni sebelum cedera (predisposisi), pada saat cedera, dan pemulihan.

Dari data yang didapat menunjukkan bahwa atlet wanita memiliki frekuensi yang lebih tinggi mengalami gegar otak dibanding atlet pria.

Alasannya masih belum jelas. Peneliti menduga ada kaitannya dengan perbedaan biologis seperti fluktuasi hormon, kekuatan leher, atau kombinasi dari beberapa faktor yang terlibat.

Meski demikian Resch berkata butuh riset mendalam lagi terkait gegar otak saat olahraga dan yang terpenting adalah perawatan kesehatan yang profesional.

"Baik pria maupun wanita akan membawa faktor predisposisi atau gejala terhadap cedera tersebut. Kita masih perlu banyak mempelajari gegar otak, termasuk bagaimana gender berperan menyebabkan cedera. Pada akhirnya gegar otak harus ditangani," kata Resch dilansir dari Medical Xpress, Rabu (7/2/2018).

Sementara itu, Susan Saliba yang seorang profesor kinesiologi Curry School berkata bahwa ada banyak faktor yang dapat memengaruhi seorang atlet mengalami gegar otak dan seberapa cepat pemulihannya. Di antaranya seperti usia, akses terhadap perawatan kesehatan, pengobatan, dan kecemasan.

Walau begitu, Saliba berkata kurangnya alat untuk mendiagnosis atlet yang mengalami gegar otak juga menjadi kendala.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X