Kompas.com - 02/02/2018, 20:37 WIB
Ilustrasi pergerakan kutub magnetik utara selama 50 tahun terakhir. National Centers for Environmental InformationIlustrasi pergerakan kutub magnetik utara selama 50 tahun terakhir.
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Belakangan ini, fokus dunia tertuju pada berita kutub magnet bumi yang akan berbalik dari utara menjadi selatan dan selatan menjadi utara.

Menurut media Australia, News.com.au, fenomena ini tidak hanya akan menyebabkan dunia mati lampu, tetapi juga kesulitan menyiram toilet.

Sementara itu, Undark melaporkan bahwa Direktur Laboratory for Atmospheric and Space Physics Daniel Baker di University of Colorado, Boulder telah memperkirakan bahwa fenomena ini akan membuat sebagian planet kita tidak bisa dihuni manusia, walaupun Baker tidak dikutip secara langsung.

Namun, apa yang sebenarnya terjadi dan perlukah kita merasa khawatir bila kutub magnet bumi berbalik?

Pertama-tama, perlu diketahui bahwa kutub magnet bumi tidak sama dengan kutub utara dan selatan yang kita kenal secara geografis.

Baca juga : Bagaimana Akademisi dan Al Quran Memandang soal Bumi Datar?

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kutub magnet bumi dipengaruhi oleh lautan besi panas yang berputar-putar di dalam inti luar bumi. Putaran ini menyebabkan adanya magnet di dalam bumi yang miring sebanyak 11 derajat dari sumbu bumi.

Nah, karena selalu berputar, lava besi terkadang bepindah tempat menjadi berlawanan dari atom besi di sekitar mereka. Ketika hal ini terjadi cukup banyak, kutub magnet bumi pun ikut berbalik.

Namun, kejadian ini tidak terjadi secara instan. Monika Korte, direktur ilmiah dari Niemegk Geomagnetic Observatory, GFZ Potsdam, Jerman mengatakan kepada Live Science, Kamis (1/2/2018), ini tidak berbalik tiba-tiba, tetapi proses yang lama, di mana kekuatan medan menjadi lemah, dan bahkan menjadi kompleks sehingga menimbulkan lebih dari dua kutub.

“Setelah mengumpulkan tenaga, mereka berkumpul di ujung-ujung yang berlawanan,” ujarnya.

Para peneliti memprediksikan bahwa fenomena ini membutuhkan waktu antara 1.000 hingga 10.000 tahun. Ia telah terjadi ratusan kali dalam sejarah dan terakhir terjadi 780.000 tahun lalu.

Baca juga : Asteroid Seukuran Burj Khalifa Akan Lintasi Bumi Bulan Depan

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.