Zulfakriza Z
Peneliti/Dosen
Dosen Teknik Geofisika, FTTM - ITB | Peneliti pada  Kelompok Keahlian Geofisika Global - FTTM - ITB | Pengurus/Anggota Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) 

Gempa Bumi, Mungkinkah Diprediksi?

Kompas.com - 02/02/2018, 18:26 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorAmir Sodikin

KAMUS Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring (online) menjelaskan istilah gempa bumi dengan sebutan gempa yang didefinisikan sebagai guncangan atau gerakan. Lebih lanjut diistilahkan bahwa getaran tersebut berupa gerakan bergelombang pada kulit bumi yang ditimbulkan oleh tenaga asal dalam bumi.

KBBI memilah istilah gempa dalam dua jenis, yaitu (1) gempa tektonik, gempa yang berhubungan dengan (disebabkan oleh) pergeseran tanah atau dengan kata lain dapat juga diartikan sebagai pergeseran struktur batuan di bawah permukaan tanah akibat adanya aktivitas tektonik, (2) gempa vulkanik yaitu gempa yang diakibatkan oleh adanya aktivitas gunung berapi.

Indonesia adalah bagian dari negara yang memiliki potensi bahaya gempa bumi yang tinggi. Sebaran lokasi gempa bumi dengan magnitudo lebih besar dari 5 yang pernah terjadi di Indonesia diperlihatkan pada gambar 1, data hiposenter berdasarkan katalog USGS tahun 1976-2016.

Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh posisi Indonesia yang berada pada zona pertemuan empat lembang tektonik dunia, yaitu Lempeng Eurasia, Indo-Australia, Pasifik dan Filipina.

Dalam catatan sejarah, banyak kejadian gempa bumi di Indonesia dan beberapa gempa bumi yang merusak dan mengakibatkan gelombang tsunami. Seperti Gempa Aceh 2004 (M 9,2) yang membangkitkan gelombang tsunami dan mengakibatkan korban lebih dari 120.000 jiwa.

Sebaran kejadian gempa bumi di Indonesia dengan megnitudo lebih besar dari 5 sejak 1976 - 2016 berdasarkan data katalog USGS. Degradasi warna lingkaran merah - biru menunjukkan kedalaman posisi sumber gempa bumi (hiposenter).Dok Zulfakriza Z Sebaran kejadian gempa bumi di Indonesia dengan megnitudo lebih besar dari 5 sejak 1976 - 2016 berdasarkan data katalog USGS. Degradasi warna lingkaran merah - biru menunjukkan kedalaman posisi sumber gempa bumi (hiposenter).
Gambar di atas menunjukkan sebaran kejadian gempa bumi di Indonesia dengan megnitudo lebih besar dari 5 sejak 1976 - 2016 berdasarkan data katalog USGS. Degradasi warna lingkaran merah - biru menunjukkan kedalaman posisi sumber gempa bumi (hiposenter).

Setelah kejadian gempa bumi dan tsunami Aceh 2004, kepedulian masyarakat dan pemerintah Indonesia terhadap bencana meningkat. Kepedulian itu tidak hanya gempa bumi akan tetapi beberapa bencana yang lainnya, seperti letusan gunung berapi, longsor dan banjir.

Kepedulian ini diwujudkan dengan lahirnya Undang-Undang 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan dibentuknya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai salah satu pelaksanaan dari amanat undang-undang tersebut.

Artinya, Indonesia tidak hanya fokus pada penyaluran bantuan pada saat tanggap darurat, artinya juga fokus pada langkah pengurangan risiko bencana.

Setiap gempa bumi yang terjadi dengan magnitudo lebih besar dari 6,5 hampir selalu memberikan dampak kerusakan pada bangunan dan infrastruktur. Tidak jarang dari kejadian itu menimbulkan korban jiwa baik luka maupun meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan bangunan.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Apa Manfaat Rambutan untuk Kesehatan Jantung?

Apa Manfaat Rambutan untuk Kesehatan Jantung?

Oh Begitu
Susu Mana yang Paling Baik untuk Lingkungan?

Susu Mana yang Paling Baik untuk Lingkungan?

Oh Begitu
Jenis-jenis Kelainan Darah dan Penyebabnya

Jenis-jenis Kelainan Darah dan Penyebabnya

Kita
Spesies Baru Kungkang Berkepala Mirip Kelapa Sempat Dikira Tidak Ada

Spesies Baru Kungkang Berkepala Mirip Kelapa Sempat Dikira Tidak Ada

Oh Begitu
Bagaimana Cara Semut Merayap di Dinding dan Melawan Gravitasi?

Bagaimana Cara Semut Merayap di Dinding dan Melawan Gravitasi?

Prof Cilik
Sama-sama Hitam dan Putih, Apa Bedanya Puffin dengan Penguin?

Sama-sama Hitam dan Putih, Apa Bedanya Puffin dengan Penguin?

Oh Begitu
Apa Warna Bulan yang Sebenarnya?

Apa Warna Bulan yang Sebenarnya?

Oh Begitu
Kenapa Hiu Takut terhadap Lumba-lumba?

Kenapa Hiu Takut terhadap Lumba-lumba?

Oh Begitu
Spesies Baru Kungkang Ditemukan, Kepalanya Mirip Kelapa Dikupas

Spesies Baru Kungkang Ditemukan, Kepalanya Mirip Kelapa Dikupas

Oh Begitu
Apa Manfaat Kupu-kupu dalam Ekosistem?

Apa Manfaat Kupu-kupu dalam Ekosistem?

Oh Begitu
Burung Pengicau Berwarna Mencolok Berisiko Punah Lebih Cepat

Burung Pengicau Berwarna Mencolok Berisiko Punah Lebih Cepat

Oh Begitu
Jumlah Darah dalam Tubuh Manusia

Jumlah Darah dalam Tubuh Manusia

Kita
5 Objek Paling Terang di Tata Surya

5 Objek Paling Terang di Tata Surya

Oh Begitu
Orang Suku Maya Kuno Makan Cokelat, Tidak Hanya untuk Persembahan Dewa

Orang Suku Maya Kuno Makan Cokelat, Tidak Hanya untuk Persembahan Dewa

Fenomena
Trenggiling Makan Apa?

Trenggiling Makan Apa?

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.