Kompas.com - 02/02/2018, 18:08 WIB
Perkembangan Limfoma TeachMePediatricsPerkembangan Limfoma
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Pada tahun 2010, pendiri perusahaan farmasi Dexa Group Rudy Soetikno (Alm) didiagnosis menderita kanker limfoma non-hodgkin. Karena penyakit jantung yang dideritanya, ia tidak bisa menjalani kemoterapi.

Harapan muncul dari saran sahabatnya seorang dokter di Jerman untuk melakukan pengobatan kombinasi bendamustine dan rituximab.

Menurut Ir.Ferry Soetikno, anak Rudy, ketika itu obat tersebut tidak tersedia di Indonesia, bahkan negara tetangga Singapura.

"Terpaksa bapak Rudy bolak balik ke Jerman untuk menjalani terapi," kata Ferry dalam acara Rudy Soetikno Memorial Lecture yang diadakan di Titan Center, Bintaro, Tangerang (27/1/2018).

Menurut Dr.Med Lothar Boning yang merawat Rudy, pengobatan bendamustin memberikan hasil bebas penyakit yang lebih lama pada pasien. "Setelah satu siklus, ukuran tumor berkurang signifikan," katanya dalam acara tersebut.

Penelitian selama bertahun-tahun terhadap bendamustine menunjukkan, jumlah kematian pasien yang diobati dengan bendamustine lebih sedikit jika dibandingkan jumlah kematian pasien yang diterapi dengan obat lain (CHOP-R). Sebanyak 73,9 persen pasien Limfoma Non-Hodgkin dapat bertahan hidup sampai 10 tahun.
 
 
Hasil penelitian ini sudah dipresentasikan dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan American Association of Clinical Oncology (ASCO) pada tahun 2017 lalu.
 
Berkat pengobatan tersebut kanker Rudy bisa dikontrol. Ia pun berharap bisa memproduksi obat tersebut untuk pasien di Indonesia. Sayangnya, pada akhir Juni tahun 2015 Rudy meninggal dunia di usia 82 tahun akibat serangan jantung.

Penerus Dexa Group saat ini meneruskan impian Rudy yaitu memproduksi obat kanker di Indonesia sehingga pasien tidak perlu berobat ke luar negeri. Dengan produksi di dalam negeri, otomatis biaya obat lebih terjangkau.

PT Ferron Par Pharmaceutical mulai memproduksi bendamustine sejak 2014 dan hasil rekomendasi RS Dharmais membuat obat ini sedang proses masuk formularium nasional, sehingga diharapkan dapat digunakan pasien BPJS di tahun 2018.

Presiden Direktur Ferron Par Pharmaceuticals Krestijanto Pandji meyakinkan bahwa harga obat ini jauh lebih murah dibandingkan obat impor.

“Visi misi Dexa Group bukan semata-mata komersial, tetapi bagaimana produk ini dapat membantu masyarakat Indonesia untuk lebih mendapatkan kualitas hidup lebih baik dengan bendamustin-rituximab dibandingkan kemoterapi standar yang memiliki lebih banyak efek samping,” jelas Krestijanto.

Harga bendamustin lebih murah karena dikembangkan di pabrik lokal dengan standar pembuatan dari Eropa.

“Kehadiran obat ini otomatis akan mengurangi ketergantungan Indonesia dari obat kanker impor. Bendamustine menambah produksi lokal untuk obat-obat kanker setelah sebelumnya juga sudah dikembangkan di Indonesia,” tambah Krestijanto.

Baca Juga : Benarkah Konsumsi Obat Tekanan Darah Tingkatkan Risiko Kanker Kulit?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.