Kompas.com - 23/01/2018, 21:07 WIB
Air Luweng Blimbing   wilayah Dusun Serpeng Wetan, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, Gunungkidul, Yogyakarta,  Habis Dalam Waktu 2 Jam Kompas.com/Markus YuwonoAir Luweng Blimbing wilayah Dusun Serpeng Wetan, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, Gunungkidul, Yogyakarta, Habis Dalam Waktu 2 Jam
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com — Kejadian Siklon Tropis Cempaka pada Selasa (27/11/2017) meninggalkan dampak di sejumlah wilayah.

Salah satunya di wilayah Gunung Kidul, Yogyakarta, yang tiba-tiba terbentuk danau yang kemudian dijadikan tempat wisata oleh warga.

Namun, pada Selasa (22/1/2018), danau dadakan yang ada di Luweng Blimbing atau goa vertikal di wilayah Dusun Serpeng Wetan, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, Gunung Kidul, Yogyakarta, ini mendadak surut. Airnya habis tak tersisa.

Seperti diberitakan Kompas.com, seorang warga mengatakan air yang awalnya hampir memenuhi cekungan habis. "Sejak siang sekitar pukul 14.00 WIB (air berkurang) dan habis sekitar pukul 16.00 WIB," kata Suharto saat ditemui di lokasi, Senin (22/1/2018).

Baca juga: Air di Danau Sedalam 60 Meter di Gunung Kidul Mendadak Habis dalam 2 Jam

Lubang berdiameter sekitar 300 meter dengan kedalaman sekitar 60 meter itu kering. Warga mendengar suara air yang masuk ke dalam tanah. "Suaranya itu seperti gempa bumi, airnya masuk ke dalam lubang di dasar luweng. Lalu airnya habis," ucap Wartinah.

Terkait hal ini, ahli geologi Rovicky Dwi Putrohari menjelaskan bahwa genangan dan meresapnya air ke dalam tanah terjadi karena adanya sungai bawah tanah. Kejadian ini sangat normal.

"Itu karena air (hujan) yang masuk (ke luweng) teralirkan kembali melalui sungai-sungai bawah tanah yang mengalirkan air. Artinya, proses pengisiannya cepat, tetapi proses pengurasannya juga sangat cepat," kata Rovicky saat dihubungi Kompas.com, Selasa (23/1/2018).

Dia menambahkan, jika nanti terjadi hujan lebat, sangat mungkin luweng-luweng yang kini kering akan terisi air lagi. Kemudian tak lama dari itu, akan surut dengan cepat kembali.

"Memang mekanismenya seperti itu. Saat terjadi hujan deras, luweng akan menampung air sehingga sistem sungai dan sistem hidrologi di daerah kars memungkinkan luweng-luweng terisi air. Proses pengisian dan pengurasannya sangat cepat karena melalui sungai bawah tanah," ujarnya.

Baca juga: Pelajaran soal Karst dan Air dari Kasus Danau Dadakan di Gunung Kidul


Pengelola blog Dongeng Biologi itu juga menjelaskan bahwa luweng-luweng tersebut dapat terisi air meski hujan lebat turun di lokasi yang berjauhan dari luweng. Hal ini tak lain karena adanya sungai bawah tanah yang menghubungkan.

Sungai bawah tanah merupakan ciri khas hidrologi daerah karst dan daerah yang kaya batu kapur (gamping), yang banyak ditemukan di pegunungan selatan pulau Jawa.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.