Kompas.com - 16/01/2018, 20:30 WIB
Ilustrasi wanita dengan sakit jantung. ThinkstockIlustrasi wanita dengan sakit jantung.
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com -- Penyakit kardiovaskular yang berkaitan dengan jantung, pembuluh darah, dan stroke adalah hal yang tidak diharapkan mampir ke tubuh.

Namun, sebuah penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan dari Universitas Oxford, membuktikan ada hubungan erat antara masalah reproduksi dengan penyakit kardiovaskular.

Mereka menemukan bahwa wanita yang memiliki masalah reproduksi akan berisiko memiliki  penyakit kardiovaskular lebih tinggi daripada yang tidak.

Dalam temuan yang diterbitkan di BMJ Journals, disebutkan wanita yang mengalami menopause dini, menstruasi pertama terhitung cepat, mengalami komplikasi kehamilan seperti keguguran atau lahir mati, dan yang melakukan histerektomi atau pengangkatan rahim, berpeluang tinggi memiliki penyakit kardiovaskular.

Baca juga : Perut Buncit? Waspadai Risiko Penyakit Kardiovaskular

Dr. Sanne Peters bersama rekannya, menemukan bahwa wanita yang mengalami menopause sebelum usia 47 tahun berisiko mengalami penyakit kardiovaskular sampai 33 persen, dan risiko stroke sampai 42 persen.

Sementara itu, perempuan yang mengalami menstruasi sebelum usia 12 tahun, berisiko 10 persen lebih tinggi mengalami penyakit kardiovaskular dibanding mereka yang mengalami menstruasi saat berumur 13 tahun atau lebih tua dari itu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebelumnya, keguguran sudah dikaitkan dengan risiko penyakit jantung yang lebih tinggi. Setiap keguguran yang dialami wanita akan meningkatkan risiko penyakit jantung sampai 6 persen. Kelahiran mati dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular sampai 12 persen dan risiko penyakit jantung sampai 20 persen.

Dalam penelitian ini, peneliti mengesampingkan risiko pengembangan penyakit kardiovaskular disebabkan oleh merokok, diabetes, dan tekanan darah tinggi.

"Saat ini kami membutuhkan lebih banyak penelitian untuk mencari tahu hubungan siklus menstruasi pertama dengan risiko penyakit jantung dan stroke," jelas Peters, pemimpin penelitian dikutip dari Telegraph, Senin (15/1/2018).

Baca juga : Temuan Baru Jelaskan Alasan Sauna Baik untuk Jantung

Para peneliti menyarankan agar para dokter lebih waspada saat berhadapan dengan wanita dengan masalah reproduksi seperti disebutkan di atas. Salah satu cara meningkatkan kewaspadaan adalah dengan melakukan pemindaian.

"Semoga para pembuat kebijakan terutama dokter dapat melakukan pemindaian yang lebih sering terhadap penyakit kardiovaskular pada wanita yang memiliki satu atau lebih faktor risiko yang disorot di sini. Hal itu untuk membuat keputusan yang dapat menunda atau mencegah penyakit jantung dan stroke," jelas Peters.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber Telegraph
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.