Teknologi Bantu Arkeolog Temukan Makam Raja Kuno yang Sulit Terjangkau - Kompas.com

Teknologi Bantu Arkeolog Temukan Makam Raja Kuno yang Sulit Terjangkau

Kompas.com - 13/01/2018, 18:04 WIB
Lembah Sungai Uyuk / SNSFLembah Sungai Uyuk / SNSF Lembah Sungai Uyuk / SNSF

KOMPAS.com - Medan yang sulit tidak lagi menjadi halangan bagi arkeolog untuk bekerja. Didukung kecanggihan teknologi, peneliti mampu mencari bukti-bukti penting dari situs yang sulit terjangkau.

Salah satunya adalah penelitian makam kuno di Siberia Selatan, Rusia, yang berada di tengah rawa di Lembah Sungai Uyuk. Awalnya, peneliti melihat sebuah struktur melingkar pada gambar beresolusi tinggi yang ada di lembah Sungai Uyuk, Siberia, dari layar komputernya.

Gino Caspari, seorang arkeolog yang mendapat dana dari Swiss National Science Foundation (SNSF), menduga kuat itu adalah makam milik seorang pangeran bangsa Skithia, yang dikenal sebagai orang Iran kuno.

Gino berkata ada harapan makam tersebut masih terjaga keasliannya, termasuk kemungkinan harta karun berharga di dalam makam.

Makam kuno pangeran Skithia tersebut merupakan makan terbesar di Siberia Selatan dan yang paling awal dibuat oleh bangsa Skithia.

Baca Juga: Makam Mesir Berusia 3.500 Tahun Dibuka untuk Kali Pertama, Apa Isinya?

Bekerja sama dengan tim peneliti dari Swiss dan Rusia, Gino berhasil membuktikan gundukan makam yang disebut Tunnug 1 atau Arzhan 0, mirip dengan konstruksi makam Arzhan 1 yang berada 10 kilometer ke arah utara dari lokasi lembah Sungai Uyuk.

Arzhan 1 diyakini sebagai area pemakaman para pangeran Skithian pertama di wilayah tersebut dan dikenal juga sebagai "Lembah Siberia Raja-raja". Hal itu karena ada banyak makam pangeran Skithia di lokasi tersebut.

Makam bangsawan paling awal biasanya terdiri dari sebuah kemasan batu dengan susunan ruangan yang melingkar. Dinding kamar mirip seperti dari tong yang terbuat dari kayu pinus.

Benda di pemakaman Skithia biasanya mencakup senjata, perlengkapan berkuda dan benda-benda yang didekorasi sesuai dengan ciri khas binatang.

Sementara itu, lokasi Arzhan 0 berada di tengah medan rawa, lokasi ini akan menyulitkan perampok harta karun makam untuk menjarah.

"Lokasi makam kuno tersebut kurang lebih lima jam perjalan dengan medan yang sulit, menggunakan kendaraan off-road dari pemukiman terdekat," kata Gino Caspari dikutip dari Phys.org, Kamis (11/01/2018).

Oleh karena itu, keaslian makam sangat terjaga dan itu memungkinkan harta karun yang mirip dengan Arzhan 2 tetap ada.

Baca Juga: Mesir Temukan Makam Kuno Berusia 2.000 Tahun dari Zaman Romawi

Temuan yang dipublikasikan di Archaeological Research tersebut menjelaskan bahwa penggalian yang dilakukan bersama arkeolog dari Universitas Bern, Akademi Sains Rusia, dan Museum Hermitage itu berhasil menemukan balok kayu yang diperkirakan berasal dari abad ke-9 SM.

Bukti ini jauh sebelum masa Arzhan 1 yang dibangun pada pergantian abad ke-9 SM sampai abad ke-8 SM dan digali pada tahun 1970-an.

"Kami memiliki peluang bagus di sini," katanya.

Seperti diketahui, sekitar tahun 2001 dan 2004, tim arkeolog dari Jerman menemukan sebuah ruang pemakaman yang masih asli di Arzhan 2 yang berisi kumpulan artefak pemakaman terkaya yang pernah ditemukan di padang rumput Eurasia.

Kurang lebih seribu benda emas ditemukan di dua mayat. Pada ruang utama makam, juga ditemukan senjata, pot, dan kuda dengan hiasan yang indah.

Kalung pangeran Skithia terbuat dari 2 kilogram emas padat di Arzhan 2. Akan tetapi, penanggalan pemakaman disebut berasal dari abad ke 7 SM, yaitu memasuki zaman besi.

Baca Juga: "Hilang" dari Sejarah, Lokasi Biara Kuno Skotlandia Terlacak

Karakteristik iklim tanah Siberia menambah harapan Gino terhadap makam kuno masih terjaga dengan baik.

Di lembah Sungai Uyuk lapisan es sangat tebal dan menyulitkan sinar matahari menembus sehingga proses pembusukan hanya terjadi di atas permukaan. Lapisan es diharapkan dapat menjaga keaslian isi makam.

"Sangat jarang sinar pantulan es mengenai bawah makam. Jika kita beruntung, kita mungkin akan menemukan beberapa ukiran kayu atau karpet yang terawat baik di bawah batu, atau mungkin mumi es," katanya.

Dalam temuannya ini, Gino menekankan pentingnya kecanggihan teknologi dalam penelitian.

"Metode arkeologi telah menjadi jauh lebih canggih sejak tahun 1970. Hari ini kita memiliki cara yang berbeda untuk memeriksa materi untuk mengetahui lebih banyak tentang transisi dari zaman perunggu akhir ke zaman besi," katanya.

Gino melihat bahwa cara manusia memandang zaman pra-sejarah berubah secara radikal berkat genetika, analisis isotop, dan metode geofisika. Perkembangan sistem informasi geografis dan penginderaan jarak jauh juga berperan penting.


EditorGloria Setyvani Putri
SumberPHYSORG
Komentar
Close Ads X