Kompas.com - 12/01/2018, 19:07 WIB
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

 

KOMPAS.com — Secara alami, batuan terbentuk dari mineral atau mineraloid. Ada yang terbentuk dari magma cair, endapan sedimen, atau perubahan bentuk dari batuan yang sudah ada sebelumnya.

Namun, batu yang ditemukan di kawasan Mesir Selatan pada 1996 membingungkan para ilmuwan.

Batu ini diberi nama Hypatia, diambil dari nama Santa Alexandria dalam agama Katolik. Batu  ini diyakini berasal dari luar angkasa. Namun, wujudnya tidak tampak seperti meteorit biasa atau asteroid. Selain itu, hasil analisis juga menunjukkan bahwa kandungan mineral mikronya pun tidak seperti apa yang pernah kita jumpai di alam semesta.

Baca juga: Apa Itu Demam Antariksa, Kondisi Aneh yang Menyerang Astronot?

Biasanya meteorit tersusun atas banyak unsur silikon dan sedikit karbon. Akan tetapi, seperti yang sudah dilaporkan dalam jurnal Geochimica et Cosmochimica Acta, batu hypatia mempunyai komposisi yang berkebalikan.

Hypatia memiliki kandungan senyawa karbon yang banyak dan hampir semuanya telah berubah menjadi berlian mikro. Beberapa senyawa karbonnya sangat menarik karena memiliki kandungan hidrokarbon polyaromatik (PAH), komponen utama debu antarbintang. Selain itu, batu hypatia juga memiliki kandungan aluminium murni.

"Aluminium di sini berbentuk sebagai logam murni sendiri, dam tidak tercampur dengan senyawa kimia yang lain," kata Georgy Belyanin dari Universitas Johannesburg, Afrika, dilansir dari IFL Science, Kamis (11/1/2018).

"Sebagai perbandingan, emas terbentuk di bongkahan, tapi aluminium tidak pernah melakukannya. Kejadian ini sangat jarang terjadi di Bumi dan bagian tata surya sejauh yang diketahui dalam sains," imbuhnya.

Hal lain yang unik dari batu hypatia adalah batu tersebut memiliki kandungan mineral yang disebut moissanite atau senyawa silikon korbida dalam bentuk unik. Juga terkandung nikel-fosfor dengan sedikit zat besi, sebuah kombinasi yang tak pernah ditemukan di Bumi.

Baca juga: Luar Biasa, Belati Raja Ini Terbuat dari Batuan Antariksa

Belyanin mengatakan, semua kandungan dalam batu tersebut menunjukkan bahwa formasinya mendahului asal usul tata surya. Sebab, batu ini tidak pernah ditemukan di Bumi atau di batuan luar angkasa.

"Yang bisa kita ketahui adalah Hypatia terbentuk di lingkungan dingin, kira-kira pada suhu di bawah nitrogen cair bumi (-196 celsius). Tempat terbentuknya mungkin lebih jauh dari sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter, tempat kebanyakan meteorit berasal," kata profesor Jan Kramers, peneliti utama batu Hypatia.

"Komet biasanya datang dari Sabuk Kuiper, di luar orbit Neptunus yang jaraknya 40 kali jarak bumi dan matahari. Ada juga yang datang dari Oort Cloud atau tempat yang lebih jauh lagi. Kami hanya tahu sedikit tentang komposisi kimia dari objek luar angkasa, jadi kami mempertanyakan dari mana asal Hypatia," sambungnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Oh Begitu
Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Oh Begitu
Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Fenomena
Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Oh Begitu
Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Oh Begitu
Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Fenomena
2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

Oh Begitu
Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena
Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Oh Begitu
Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Oh Begitu
Pertambangan Batu Bara Disebut Hambat Indonesia Capai Target Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Pertambangan Batu Bara Disebut Hambat Indonesia Capai Target Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Oh Begitu
Kapan Orangtua Perlu Waspada terhadap Cerebral Palsy?

Kapan Orangtua Perlu Waspada terhadap Cerebral Palsy?

Kita
Studi Sebut Manusia Tanam Pohon Zaitun Pertama Kali 7.000 Tahun Lalu

Studi Sebut Manusia Tanam Pohon Zaitun Pertama Kali 7.000 Tahun Lalu

Oh Begitu
Contoh Sendi Pelana dan Cara Kerjanya

Contoh Sendi Pelana dan Cara Kerjanya

Kita
Fenomena Tak Biasa Ular Makan Ular Terekam Kamera

Fenomena Tak Biasa Ular Makan Ular Terekam Kamera

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.