Kompas.com - 08/01/2018, 07:18 WIB
Seekor bayi unta mengisap susu induknya di kota Guellala di pulau resor Djerba selatan, Djerba, pada tanggal 13 Mei 2017 FETHI BELAID FETHI BELAIDSeekor bayi unta mengisap susu induknya di kota Guellala di pulau resor Djerba selatan, Djerba, pada tanggal 13 Mei 2017 FETHI BELAID
|
EditorYunanto Wiji Utomo

Sabtu (2/12/2017), UEA telah menguji 10 unta yang memasuki wilayah Al AIn-Mezyad untuk pemeriksaan MERS-CoV. Dengan pemeriksaan lendir pada saluran pernapasan menggunakan teknik PCR (polymerase chain reaction), mereka mengidentifikasi protein khas virus penyebab MERS. Lima di antaranya positif.

"Infeksi dengan MERS-CoV dapat menyebabkan penyakit parah yang mengakibatkan tingginya angka kematian. Manusia terinfeksi MERS-CoV karena kontak langsung atau tidak langsung dengan unta dromedari (unta asal Arab Saudi)," tulis WHO dalam keterangan resminya.

"Masyarakat harus menghindari minum susu unta mentah atau air seni unta, atau makan daging yang belum dimasak dengan benar," tegas WHO.

Baca juga : Sains Jelaskan Kenapa Orang Religius Lebih Sehat dan Hidup Lama

Kini, negara dengan mayoritas muslim di dunia pun telah bergerak untuk memberi peringatan. Seperti yang dilakukan oleh Asosiasi Medis Islam Malaysia (Imam).

"Jika metode yang diklaim sebagai pengobatan lebih banyak ruginya daripada manfaatnya, maka itu dianggap haram dari perspektif Islam," kata kepala komite Fiqh Medis, Dr Ahmad Faidhi Mohd Zaini, seperti diberitakan Free Malaysia Today, Kamis (4/1/2018).

"Sekarang kita tahu bahwa mungkin kita bisa mengidap MERS-CoV karena unta, untuk itu kontak dengan unta harus dihindari," katanya.

Faidhi berkata, akan lebih bijak jika masyarakat memahami bukti baru dan mencari perawatan medis jika sakit.

"Minum air kencing unta adalah praktik yang didasarkan pada pengobatan tradisional Arab, di mana ini tidak dianggap sebagai Sunnah Tasri'yyah, tapi praktik oleh masyarakat Arab kuno," kata Faidhi.

Seperti diketahui, urin merupakan proses membuang racun dan zat kimia lain dalam tubuh. Meski ada beberapa zat kimia dalam urin yang dianggap bermanfaat, toksinnya tidak.

Zat kimia apa pun yang didapat dari tempat kotor dari dalam tubuh makhluk hidup tidak bisa dimakan atau diminum. Kini, keputusan ada di tangan Anda.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.