Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 05/01/2018, 21:33 WIB
|
EditorResa Eka Ayu Sartika

KOMPAS.com - Infeksi hepatitis B saat ini masih menjadi ancaman yang menakutkan bagi masyarakat dunia. Hepatitis B juga dianggap sebagai silent killer hingga saat ini.

Tapi siapa sangka jika virus ini telah ada sejak 450 tahun lalu. Hal ini dibuktikan melalui penemuan mumi anak yang diperkirakan berasal dari abad pertengahan.

Dari analisis DNA, yang dulu dianggap sebagai bukti tertua infeksi cacar pada manusia mengungkapkan bahwa sebuah mumi berusia 450 tahun yang meninggal akibat hepatitis B. Temuan ini mengubah pengetahuan tentang infeksi hepatitis pertama pada manusia.

Untuk mendapatkan temuan ini, para peneliti menggunakan pengurutan gen canggih yang menganalisis DNA. DNA tersebut diambil dari sampel kulit dan tulang mumi anak kecil yang dikuburkan di Basilika Saint Domenico Maggiore di Naples, Italia pada adan ke-16.

Baca juga: Jangan Ditunda, Bayi Baru Lahir Harus Segera Vaksin Hepatitis B

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Plos Pathogens tersebut mengungkap bahwa anak tersebut meninggal akibat hepatitis B, bukan cacar seperti yang diyakini selama ini.

Penemuan ini tentu penting untuk memahami kapan dan di mana suatu penyakit menginfeksi manusia untuk pertama kalinya. Hal itu untuk menambah pemahaman bagaimana penyakit atau virus berkembang dari waktu ke waktu.

Temuan terbaru ini menunjukkan bukti tertua tentang hepatitis yang menginfeksi manusia. Analisis DNA yang lebih jauh juga mengungkap bahwa virus tersebut telah berkembang selama beberapa ratus tahun terakhir.

Mummy Italia buktikan infeksi hepatitis b 450 tahun lalu Mummy Italia buktikan infeksi hepatitis b 450 tahun lalu

"Semakin kita mengerti tentang perilaku epidemi dan wabah masa lalu, semakin besar pemahaman kita tentang bagaimana patogen modern dapat bekerja dan menyebar, dan informasi ini akhirnya akan membantu penguasaan terhadap penyekit tersebut," kata Hendrik Poinar, ahli genetika evolusioner di McMaster Ancient DNA Center dikutip dari Newsweek, Kamis (04/01/2018).

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kebanyakan orang tidak mengalami gejala sampai mereka terinfeksi hepatitis B selama beberapa minggu setelah infeksi awal. Pada titik ini, kulit dan mata mereka mulai menguning, air seni berwarna gelap, dan biasanya merasa tidak sehat.

Baca juga: Ketahui Sejak Dini Gejala Hepatitis B dan C

Namun, seperti yang dicatat dalam penelitian baru-baru ini, anak-anak dengan hepatitis B mungkin juga mengalami ruam di wajah yang dikenal dengan sindeom Gianotti-Crosti. Ruam ini mungkin yang menambah kesalahan diagnosis pada mumi yang telah berusia berabad-abad tersebut sebelumnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Sumber Newsweek
Video rekomendasi
Video lainnya


Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+