Permukaan Bumi Makin Kering, Apa Dampaknya Bagi Kita? - Kompas.com

Permukaan Bumi Makin Kering, Apa Dampaknya Bagi Kita?

Kompas.com - 02/01/2018, 17:00 WIB
Seorang penggembala berjalan di atas sungai kering di distri Yadadri Bhuvanagiri, 55 kilometer dari Hyderabad pada tanggal 30 Mei 2017, di selatan provinsi Telangana, India.NOAH SEELAM / AFP Seorang penggembala berjalan di atas sungai kering di distri Yadadri Bhuvanagiri, 55 kilometer dari Hyderabad pada tanggal 30 Mei 2017, di selatan provinsi Telangana, India.

KOMPAS.com - Pemanasan global dan perubahan iklim masih berlanjut di tahun 2018 ini. Bahkan menurut beberapa ilmuwan, lebih dari seperempat permukaan bumi akan menjadi lebih kering secara signifikan bahkan jika manusia berhasil membatasi pemanasan global hingga 2 derajat celcius seperti yang ditetapkan pada Kesepakatan Iklim Paris.

Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Climate Change, para ilmuwan menyebut jika kita (manusia) bisa membatasi kenaikan suhu rata-rata hingga 1,5 derajat celcius, hanya akan ada sepersepuluh dari dua pertiga tanah yang diproyeksikan terpanggang di bawah 2 derajat celcius.

Pada 1,5 derajat celcius, bagian selatan Eropa, Afrika bagian selatan, Amerika Tengah, pesisir Australia, Amerika, dan Asia tenggara akan terhidar dari aridifikasi yang signifikan (di bawah 2 derajat celcius), kata Su-Jong Jeong, co-author penelitian ini. Sebagai informasi, aridifikiasi sendiri adalah proses suatu wilayah menjadi lebih kering.

"Mencapai 1,5 derajat celcius menjadi tindakan yang berarti untuk mengurangi kemungkinan terjadinya aridifikasi dan dampak terkait," kata peneliti dari Southern University of Science and Technology di Shenzhen, China tersebut dikutip dari AFP, Senin (01/01/2018).

Baca juga: Pro Kontra Rekayasa Iklim untuk Selamatkan Bumi dari Pemanasan Global

Untuk memperoleh temuan tetsebut, Jeong dan timnya menggunakan proyeksi dari beberapa model iklim. Selain itu, mereka juga membuat skenario pemanasan yang berbeda untuk memprediksi pola pengeringan lahan.

Aridifikasi adalah ancaman utama yang mempercepat degradasi dan penggurunan lahan. Tak hanya itu, proses ini juga membuat hilangnya tanaman dan pohon yang penting untuk menyerap karbon dioksida di bumi.

Hal ini juga meningkatkan kekeringan dan kebakaran hutan. Kualitas air untuk pertanian maupun minum juga akan terpengaruh.

Tim ini menemukan bahwa pada 2 derajat celcius, sekitar 24 hingga 32 persen dari total permukaan tanah akan menjadi lebih kering. Suhu tersebut bisa terjadi kapan saja antara tahun 2052-2070.

Ini mencakup lima kategori lahan, yaitu sangat kering, kering, semi-kering, kering sedikit lembap, dan lembap.

Tapi pada 1,5 derajat celcius, kekeringan lahan ini berkurang antara 8-10 persen, kata Jeong.

Berdasarakan Kesepakatan Iklim Paris pada 2015, negara-negara dari seluruh dunia berjanji untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari pembakaran batu bara, minyak, dan gas alam. Seperti yang diketahui, emisi gas rumah kaca bertanggung jawab atas perubahan iklim yang terjadi.

Baca juga: Gara-gara Perubahan Iklim, Beruang Pun Terpaksa Jadi Vegetarian

Sayangnya, tujuan ini menempatkan planet kita pada jalur pemanasan lebih dari 3 derajat celcius. Para ilmuwan memperingatkan baha pada suhu ini akan menyebabkan badai besar bagi kehidupan, kenaikan permukaan air laut, banjir, dan kekeringan.

"Karena kebijakan mitigasi saat ini tampaknya tidak mencukupi untuk mencapai target suhu 1,5 derajat celcius, lebih banyak upaya untuk pengendalian pemanasan global yang dibutuhkan untuk mengurangi penyebaran aridifikasi," kata penulis penelitian tersebut.


EditorResa Eka Ayu Sartika
SumberAFP

Close Ads X