Kompas.com - 23/12/2017, 21:04 WIB
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com--Manusia memang belum resmi tinggal di bulan. Namun, tampaknya hal tersebut tidak menyurutkan semangat salah satu startup Jepang untuk mencuri start lebih awal dalam mengembangkan industri periklanan di luar angkasa.

Startup perjalanan luar angkasa bernama Ispace Inc ini berencana menempatkan iklan di bulan. Sebagai bentuk konsistensinya, mereka sudah mengumpulkan sekitar 90 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,2 triliun untuk mengeksekusi rencana mereka tersebut pada tahun 2020.

Nantinya, iklan tidak berbentuk papan iklan tradisional seperti di bumi, melainkan proyeksi iklan atau yang disebut dengan projection mapping service.

Proyeksi iklan inilah yang nantinya akan dilihat oleh orang yang mendarat di Bulan dengan maksud dan tujuan yang sama seperti papan reklame tradisional.

Rencana tersebut membuat Ispace berpotensi menjadi startup pertama yang mencoba beriklan di bulan dalam arti yang sebenarnya.

Baca juga : Bulan Tidak Hanya Jadi Tameng Bumi, Apa Saja Fungsinya?

Sayang inovasi Ispace ini rupanya masih menuai kecaman dari beberapa pihak.

Ispace berencana menyediakan jasa bagi perusahaan yang ingin lanskap bulan menjadi latar belakang logo perusahaannya. Jika ingin melihat dari bumi, iklan nanti bisa dilihat dengan menggunakan teleskop. Itu artinya iklan harus lebih besar dan lebih terang daripada hampir semua objek lain di langit malam.

Sementara Joanne Gabrynowicz, pakar hukum luar angkasa di University of Misissipi, berpendapat jika iklan yang berukuran besar dapat meningkatkan polusi dan pecemaran cahaya yang membuat langit malam menjadi lebih terang.

Kondisi ini akan menghalangi observasi luar angkasa, menganggu navigasi satelit, dan secara umum, menjadi pemandangan kurang menyenangkan bagi publik.

Baca juga : Pertanyaan Terbesar tentang Bulan yang Belum Terjawab hingga Sekarang

Berdasarkan Perjanjian Luar Angkasa pada 1967 yang salah satunya ditanda tangani oleh Jepang, disebutkan bahwa luar angkasa merupakan ruang bebas untuk dieksplorasi oleh semua negara.

Lalu, ada salah satu poin dalam kesepakatan itu yang menyebutkan bahwa negara atau warga yang berada di bawah kewenangannya tidak diizinkan untuk menimbulkan kerusakan atau kontaminasi sebagai akibat aktivitas mereka. Itulah mengapa rencana ini masih menjadi perdebatan.
 
Namun, terlepas dari pro kontra tersebut, cepat atau lambat ide soal penempatan iklan luar angkasa ini akan menjadi isu yang tak bisa terelakkan seiring dengan berkembangnya industri swasta luar angkasa.

"Manusia pindah ke luar angkasa tidak untuk menjadi miskin. Itulah kenapa penting untuk menciptakan ekonomi di luar angkasa." kata Takeshi Hakamada, CEO dari Ispace.

Jadi akankah kita pertaruhkan keindahan langit malam demi sebuah inovasi dan kemajuan teknologi? Kita tunggu saja.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.