Kompas.com - 22/12/2017, 18:05 WIB
|
EditorGloria Setyvani Putri


KOMPAS.com - Ternyata evolusi makhluk hidup di Bumi tidak merata. Contohnya cacing laut ini, yang masih saja tidak memiliki anus untuk buang air besar.

Padahal, umumnya makhluk hidup di bumi saat ini sudah memiliki organ yang kompleks seperti sistem saraf, ginjal, atau anus. Tapi ini berbeda pada cacing laut bernama Xenoturbella japonica yang ditemukan peneliti dari Jepang di dasar laut Pasifik Barat.

Cacing laut tersebut merupakan anggota genus Xenoturbella yang tinggal di dasar laut dan merupakan spesies keenam yang ditemukan dari genus ini, sehingga lebih mudah dipelajari.

Ada dua spesimen cacing laut yang ditemukan, satu jenis betina dewasa dengan ukuran kurang lebih 5 sentimeter dan satunya berukuran lebih kecil, 1 sentimeter. Warnanya oranye pucat, memiliki mulut berbentuk oval dan jaringan kelenjar pada permukaan bawah.

Baca Juga: Cacing Misterius Ini Punya Mulut yang Juga Berfungsi sebagai Anus

Seperti diketahui, genus ini dikenal aneh dan misterius. Saat pertama kali ditemukan pada tahun 1915, peneliti tidak mampu memberikan penjelasan hingga tahun 1949.

Saat itu penjelasannya hanyalah seekor cacing kecil seperti kantong tanpa organ, tidak ada sistem peredaran darah, tidak ada sistem pernapasan, tidak ada kelenjar reproduksi dan anus. Peneliti meyakini lobang mulut untuk makan juga berfungsi sebagai anus untuk membuang kotorannya.

Peneliti pada saat itu juga kebingungan untuk membuat klasifikasi cacing laut tersebut. Pernah akan diklasifikasikan dalam kelas moluska, karena saat dites DNA moluska muncul. Tetapi, ternyata penelitian selanjutnya menunjukan bahwa itu adalah makanan cacing.

Pencerahan akhirnya diperoleh peneliti pada penemuan 2016. Tim peneliti menemukan empat spesies baru Xenoturbella di Pasifik timur. Penemuan ini membantu peneliti menempatkan makhluk tersebut pada pohon kehidupan.

Cacing laut masuk dalam bilateria basal Xenacoelomorpha, yang mengandung Xenoturbella dan Acoelomorpha.

Bilateria adalah kelompok hewan paling kompleks yang bilateral simetris. Dia memiliki ujung depan dan belakang, juga sisi atas dan sisi bawah, paling tidak pada masa pertumbuhannya. Bentuk ini sangat primitif dari bilateria, namun penemuan tersebut bisa memberi informasi bagaimana evolusi terjadi.

Halaman:


Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.