Kompas.com - 21/12/2017, 22:04 WIB
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Bisakah Anda membayangkan dunia di mana otak pelaku pelecehan seksual ditanami implan yang mencegah mereka melaksanakan keinginannya? Atau implan ditanam pada otak pasien yang depresi dan ingin bunuh diri?

Ini bisa jadi bukan sekadar imajinasi lagi. Sekelompok peneliti di Universitas Stanford mengungkapkan bahwa dalam hitungan detik, otak mengirimkan sinyal berbeda sebelum ledakan perilaku impulsif terjadi.

Aktivitas elektrik dalam otak tersebut terjadi di area nucleus accumbens dan membanjiri tubuh dengan kenikmatan antisipatif. Sebagai informasi, area nucleus accumbens di otak berperan untuk mengatur dorongan nafsu manusia, termasuk seks dan makanan.

Kenikmatan tersebut bisa begitu intensif sehingga seseorang bisa mengesampingkan kekhawatiran tentang konsekuensi sosial dari tindakan yang ingin dilakukannya.

Baca juga : Mengenal ECT, Terapi Kejut Listrik untuk Pasien yang Ingin Bunuh Diri

Dengan pemahaman ini, para peneliti mengaku telah menemukan cara mematikan sinyal tersebut sebelum perilaku impulsif meledak.

"Bayangkan jika Anda bisa memprediksi dan mencegah usaha bunuh diri, suntikan heroin, konsumsi alkohol, makanan berlebihan, atau rasa amarah yang tidak terkendali," kata Dr Casey Halpern seorang asisten profesor bedah saraf di Universitas Stanford, dikutip dari Telegraph pada hari Senin (18/12/2017).

Dr Halpern berkata bahwa hingga saat ini, belum ada cara pasti yang bisa memengaruhi respons saraf terhadap perilaku impulsif berbahaya. Hal ini karena belum ada yang mampu mencatat karakteristik gejalanya dalam otak yang bisa digunakan jadi pemicu pengiriman data ke implan otak.

Baca Juga: Studi Awal, Olahraga dapat Meningkatkan Ukuran Otak

Namun, kini para peneliti telah berhasil mengidentifikasikan tanda-tanda biologis secara real-time untuk perilaku impulsif berbahaya dan membuka kemungkinan penggunaan impan otak, seperti yang digunakan pada penderita penyakit Parkinson, untuk pengendaliannya.

Dalam eksperimennya, para peneliti mampu menunjukkan bahwa sinyal dapat dideteksi pada pasien dengan gangguan obsesif impulsif, dan stimulasi elektrik pada otak membuat tikus berhenti makan secara berlebihan.

Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academies of Sciences.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Telegraph
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cerita di Balik Perumusan Naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Ini Sejarahnya

Cerita di Balik Perumusan Naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Ini Sejarahnya

Oh Begitu
Hari Kemerdekaan Ke-77 RI, Sejarah Teks Proklamasi yang Dibacakan Soekarno

Hari Kemerdekaan Ke-77 RI, Sejarah Teks Proklamasi yang Dibacakan Soekarno

Oh Begitu
Lomba 17 Agustus Sering Bikin Cedera, Ini Pesan Dokter untuk Menghindari Cedera

Lomba 17 Agustus Sering Bikin Cedera, Ini Pesan Dokter untuk Menghindari Cedera

Oh Begitu
Bunga Bangkai Mekar di Bekasi Sejenis Suweg, Tanaman Apa Itu?

Bunga Bangkai Mekar di Bekasi Sejenis Suweg, Tanaman Apa Itu?

Oh Begitu
Lapisan Es Antartika Meleleh Lebih Cepat, Begini Penampakannya

Lapisan Es Antartika Meleleh Lebih Cepat, Begini Penampakannya

Fenomena
Bagaimana Dinosaurus Mampu Menopang Tubuh Raksasanya?

Bagaimana Dinosaurus Mampu Menopang Tubuh Raksasanya?

Fenomena
Apakah Gigitan Lintah Berbahaya?

Apakah Gigitan Lintah Berbahaya?

Kita
Perubahan Iklim Perburuk Penyebaran Penyakit Menular pada Manusia

Perubahan Iklim Perburuk Penyebaran Penyakit Menular pada Manusia

Oh Begitu
Vaksin Baru Covid-19 Diklaim Bisa Lawan Dua Varian Virus Corona, Disetujui di Inggris

Vaksin Baru Covid-19 Diklaim Bisa Lawan Dua Varian Virus Corona, Disetujui di Inggris

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Belalang Bisa Mencium Sel Kanker Manusia | Virus Cacar Monyet Ditemukan pada Sampel Dubur | Ancaman Jakarta Tenggelam

[POPULER SAINS] Belalang Bisa Mencium Sel Kanker Manusia | Virus Cacar Monyet Ditemukan pada Sampel Dubur | Ancaman Jakarta Tenggelam

Oh Begitu
Setelah Peristiwa Jatuhnya Roket China di Indonesia

Setelah Peristiwa Jatuhnya Roket China di Indonesia

Fenomena
Cara Mencegah Tomcat Masuk Rumah Menurut Pakar

Cara Mencegah Tomcat Masuk Rumah Menurut Pakar

Oh Begitu
Status Konservasi Monyet Ekor Panjang Terancam Berbahaya Risiko Kepunahan

Status Konservasi Monyet Ekor Panjang Terancam Berbahaya Risiko Kepunahan

Oh Begitu
Ikan Channa Maru, Ikan Gabus Predator Primitif Bercorak Indah

Ikan Channa Maru, Ikan Gabus Predator Primitif Bercorak Indah

Fenomena
Berencana Bikin Bangunan di Luar Angkasa, Ahli Kembangkan Semen Khusus

Berencana Bikin Bangunan di Luar Angkasa, Ahli Kembangkan Semen Khusus

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.