Lama Tergantung China, Indonesia Kini Bisa Bikin Rubber Airbag Sendiri - Kompas.com

Lama Tergantung China, Indonesia Kini Bisa Bikin Rubber Airbag Sendiri

Kompas.com - 14/12/2017, 18:05 WIB
Rubber airbag buatan BPPT dan PT Samudra Luas ParamacitraYunanto Wiji Utomo/Kompas.com Rubber airbag buatan BPPT dan PT Samudra Luas Paramacitra

KOMPAS.com -- Indonesia akhirnya bisa memproduksi rubber airbag sendiri dan bakal bisa melepaskan ketergantungan impor dari China.

Rubber airbag, seperti namanya, berbentuk menyerupai kantung berbahan karet berisi udara. Namun, beda dari kedengarannya, kantung ini berfungsi sebagai landasan yang membantu peluncuran kapal.

"Selama ini kita impor dari China," kata Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Unggul Priyanto.

"Maka kita coba kerjasama dengan industri agar bisa membuat sendiri," imbuhnya lagi.

Direktur Pusat Teknologi Material BPPT, Aris Riswoko, mengatakan, upaya lembaganya untuk membuat rubber airbag dimulai sejak tahun 2015.

Baca juga : Soal KA Semi Cepat Jakarta-Surabaya, Jangan Lupa Industri Dalam Negeri

"Meskipun terlihat sederhana, pembuatan rubber airbag rumit sebab kita harus membuat agar karet dan lapisannya bisa menahan beban kapal hingga 1600 ton," katanya.

Setelah ujicoba mengolah karet dan mencampurnya dengan bahan lain, BPPT yang bekerjasama dengan PT Samudra Luas Paramacitra akhirnya bisa membuatnya.

"Dari uji bearing capacity, rubber airbag telah melampaui ISO 14409:2011 - Ships and Marine Technology, Ships and Marine Airbag. Hasil uji ini menunjukkan kemampuan dan kekuatan rubber airbag dalam menahan bobot kapal," kata Hammam Riza, Deputi Bidang Informasi, Energi, dan Material BPPT.

Rubber airbag buatan BPPT dan PT Samudra Luas ParamacitraYunanto Wiji Utomo/Kompas.com Rubber airbag buatan BPPT dan PT Samudra Luas Paramacitra

Kamis (14/12/2017) di Cirebon, BPPT akhirnya menyatakan bahwa rubber airbag siap diproduksi secara massal.

Unggul mengatakan, rubber airbag ini sekaligus bisa membantu pemanfaatan karet alam yang selama ini diekspor sebagai bahan mentah dengan harga yang tidak stabil.

Dengan pengolahan menjadi rubber airbag, karet jadi punya nilai tambah. Rubber airbag ke depan direncanakan akan diekspor, setidaknya untuk pasar terdekat.

Baca juga : Keampuhan Pemetaan Drone Alap-alap Diujicoba di Jalur Kereta Cepat

"Supply chain juga jalan, petani karet bisa jual karetnya ke industri," ungkap Unggul.

Presiden Direktur PT Samudra Luas Paramacitra mengungkapkan, rubber airbag yang dihasilkannya memiliki beberapa kelebihan.

Keunggulan utama adalah produksi dalam negeri dan harga yang lebih murah 30 persen dari impor. Keunggulan lainnya, dengan memakai rubber airbag lokal, waktu pengadaan lebih singkat dan lebih fleksibel sesuai kebutuhan galangan.

Dengan menggunakan rubber airbag lokal, Indonesia akan mengikis ketergantungan impor senilai 8,7 juta dollar AS per tahun. Pasalnya, potensi pemasaran rubber airbag di Indonesia mencapai 10.000 unit per tahun, dan Martin berkata bahwa pihaknya bisa menghasilkan setidaknya puluhan per bulan.

Rubber airbag hanya salah satu cara BPPT untuk memanfaatkan karet alam. Asep mengatakan, saat ini BPPT tengah berusaha mengolah karet menjadi vulkanisir pesawat.


EditorShierine Wangsa Wibawa
Komentar
Close Ads X