Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 12/12/2017, 19:51 WIB
|
EditorMichael Hangga Wismabrata

KOMPAS.com - Tidak ada alasan untuk menunda pemeriksaan Anda dan orang terkasih di saat wabah difteri sedang terjadi.

Bila tanda-tanda gangguan pernapasan sudah terasa, seperti susah menelan, demam tidak terlalu tinggi, sakit tenggorokan, atau suara parau, segeralah cek pangkal tenggorokan. Buka mulut dan amati, apakah ada selaput putih keabu-abuan di dalam sana. 

Selaput ini merupakan kumpulan sel-sel mati yang membentuk membran. Penyebabnya adalah bakteri Corynebacterium diphtheriae yang menghasilkan racun dan membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan sehingga akhirnya menjadi sel mati.

Jika ada selaput, jangan ragu dan segeralah berkonsultasi dengan dokter di rumah sakit atau puskesmas terdekat. Dengan demikian, Anda akan mendapatkan deteksi yang lebih akurat dan penanganan yang tepat.

Baca juga : Jangan Tolak Imunisasi Difteri, Penyakitnya Lebih Ngeri dari Vaksinnya 

Dokter spesialis anak Djatnika Setiabudi dari Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung berkata kepada Kompas.com bahwa selama pemeriksaan, dokter akan memberikan beberapa pertanyaan untuk meninjau riwayat penyakit pasien.

"Dokter pasti akan bertanya, apakah sudah mendapat imunisasi difteri atau belum, lengkap atau tidak (imunisasinya). Selain itu juga menanyakan bagaimana lingkungannya. Apakah di sekitar rumah, tetangga, atau sekolah, ada orang lain yang memiliki gejala seperti penyakit difteri," kata Djatnika melalui sambungan telepon Selasa (12/12/2017).

Menurut Kepala Divisi Infeksi Tropis Ilmu Kesehatan Anak RSHS Bandung, hal tersebut penting ditanyakan untuk mengetahui riwayat pasien dan membuat laporan ke Dinas Kesehatan.

Jika dokter sudah yakin bahwa gejala yang timbul adalah gejala penyakit difteri, maka dokter akan segera mengambil selaput putih keabu-abuan yang merekat menutupi saluran pernapasan.

"Diambilnya (selaput) langsung dengan alat, tetapi tidak melalui proses pembedahan," terangnya.

Baca juga : Kupas Habis Difteri, Bagaimana Penyakit Kuno Jadi Hantu pada 2017?

Sampel dari selaput lendir yang diambil tadi kemudian diperiksa di laboratorium.

Jika dokter sudah mencurigai kuat  bahwapasien tertular difteri, maka dokter akan segera melakukan pengobatan sebelum ada hasil laboratorium, dan pasien akan diminta untuk menjalani perawatan di ruang isolasi. 

Selain itu, ada dua pengobatan yang akan diberikan, yakni antibiotik dan antitoksin yang berfungsi untuk membunuh bakteri dan menyembuhkan infeksi.

"Pengobatan biasanya dilakukan selama 14 hari, maka isolasi paling tidak dua sampai tiga minggu, sampai benar-benar bersih (dari bakteri difteri)," imbuh Djatnika.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Video rekomendasi
Video lainnya


Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+