Kompas.com - 30/11/2017, 21:05 WIB
Ilustrasi atlet dayung DANIEL LEAL-OLIVAS / AFPIlustrasi atlet dayung
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com - Di masa ini, mungkin orang akan berasumsi bahwa perempuan dengan lengan terkuat adalah para atlet dayung. Bagaimana tidak, setiap hari mereka mengoptimalkan gerak tangan untuk menggerakkan perahu.

Namun, temuan terbaru di dunia sains mengungkapkan bahwa lengan pendayung pada masa kini tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan lengan perempuan dari zaman prasejarah.

Dalam penelitian yang sudah diterbitkan di jurnal Science Advances minggu ini, para periset dari Departemen Arkeologi Universitas Cambridge telah membandingkan tulang belulang perempuan purba yang tinggal di Eropa Tengah pada masa awal mengenal pertanian, sekitar 6.000 tahun lalu, dengan atlet di masa ini yang masih hidup.

Sampai saat ini, investigasi perilaku masa lalu hanya membandingkan tulang perempuan dengan tulang laki-laki dari masa dan wilayah yang sama. Penelitian ini merupakan studi pertama yang membandingkan tulang perempuan prasejarah dengan tulang perempuan yang masih hidup.

Baca Juga : Kisah Nyata Virsaviya, Anak Perempuan dengan Jantung di Luar Dada

Dr Alison Macintosh, penulis utama studi ini seperti dikutip dari Science Daily, Rabu (29/11/2017), mengatakan, dengan menafsirkan tulang perempuan dalam konteks spesifiknya, kita dapat melihat seberapa intensif, bervariasi, dan melelahkannya perilaku mereka. Hal ini mengisyaratkan sejarah tersembunyi dari pekerjaan perempuan ribuan tahun lalu.

Penelitian yang merupakan bagian dari proyek ADaPT (Adaptasi, Dispersal, dan Fenotip) yang didanai European Research Council ini menggunakan pemindai CT kecil di laboratorium PAVE Cambridge untuk menganalisa lengan atas (humerus) dan tulang kering (tibia) pada atlet perempuan yang masih hidup.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kekuatan tulang perempuan modern ini dibandingkan dengan perempuan dari era pertanian Neolitikum awal sampai kelompok petani di abad pertengahan.

"Sangat mudah untuk melupakan bahwa tulang adalah jaringan hidup yang merespons kerasnya apa yang terjadi pada tubuh kita. Dampak fisik dan aktivitas otot membuat tulang tertekan dan berubah bentuk, seperti kelengkungan, ketebalan, dan kerapatan dari waktu ke waktu sebagai hasil dari tekanan yang terus didapat berulang," ujar Macintosh.

Baca Juga : Penasaran dengan Isi Otak Perempuan Saat Orgasme? Sains Menunjukkannya

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.