Kompas.com - 27/11/2017, 20:42 WIB
Letusan Gunung Agung yang terletak di Kabupaten Karangasem, Bali, terus membesar, Minggu (26/11/2017). Kompa.com/ Robinson GamarLetusan Gunung Agung yang terletak di Kabupaten Karangasem, Bali, terus membesar, Minggu (26/11/2017).
|
EditorGloria Setyvani Putri

KOMPAS.com - Status bencana erupsi Gunung Agung sudah menjadi level IV (awas). Apakah letusan besar Gunung Agung akan segera terjadi? 

Dikutip dari KOMPAS.com, Senin (27/11/2017), Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho berkata bahwa intensitas suara dentuman lemah terdengar sampai jarak 12 kilometer, dan kadang disertai erupsi eksplosif. Lalu, sinar api juga semakin sering teramati dari puncak gunung.

Hal-hal ini, ujar Sutopo, menjadi penanda potensi letusan yang lebih besar akan segera terjadi.

Kepala Bidang Mitigasi PVMBG, I Gede Suantika turut menambahkan bahwa perubahan tipe erupsi freatik (letusan gas asap dan material) berubah menjadi fase magmatik sebagai pertimbangan utama mengapa status dinaikan. Fase magmatik adalah erupsi magma yang menghasilkan produk magma seperti abu atau lava.

Baca Juga: Lama Bikin Cemas, Kenapa Letusan Gunung Agung Cuma Keluarkan Asap?

"Terhitung sejak hari ini, Senin 27 November 2017 pukul 06.00 WITA, status Gunung Agung dinaikkan dari level III (siaga) menjadi level IV (awas)," kata Suantika, seperti dikutip dari KOMPAS.com, Senin (27/11/2017).

Terkait hal ini, ahli geologi dari Universitas Denison, Amerika, Erik Klemmeti, menjelaskan perbedaan dasar dari tipe freatik dan freatomagmatik.

"Tipe freatik ini tidak melibatkan banyak air, dan bila terdengar suara ledakan itu penanda adanya aktivitas baru di dalam gunung tersebut," katanya dikutip dari Wired pada Jumat,(11/11/2011).

"(Sementara itu), dalam tipe erupsi freatomagmatik, biasanya magma yang meletus bersentuhan langsung dengan air di danau kawah, atau bisa dari salju atau es, mungkin juga air laut," ujarnya.

Perbedaan suhu antara magma dan air ini sangat besar dan terkadang bisa sampai di atas 1100°C yang menyebabkan ledakan air dan magma.

Baca Juga: 9 Tanda Tekanan Magma ke Puncak Gunung Agung Kian Nyata dan Kuat

"Proses tersebut adalah fragmentasi, dan biasanya disertai abu yang diproduksi selama letusan terjadi. Ini berarti bisa jadi akan ada aliran lahar dan letusan eksplosif yang besar," sambungnya.

Meski demikian, tidak ada yang bisa memastikan kapan ledakan tersebut akan terjadi. Hal yang bisa dilakukan adalah melakukan pengamatan detail dan intensif terkait tanda-tandanya.

Untuk itu, BNPB mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Agung untuk tidak beraktivitas di sekitar gunung, termasuk wisatawan, dalam radius delapan kilometer dari kawah gunung.

Lalu, perluasan sektoral sejauh 10 kilometer ke arah utara, timur laut, tenggara, selatan dan barat daya juga perlu dilakukan.

"Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung Agung yang paling aktual," kata Sutopo.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kenapa Jantung Kita Berdetak Lebih Cepat Saat Takut? Sains Jelaskan

Kenapa Jantung Kita Berdetak Lebih Cepat Saat Takut? Sains Jelaskan

Oh Begitu
Rangkuman Gempa Signifikan Sepekan Terakhir, Apa Saja?

Rangkuman Gempa Signifikan Sepekan Terakhir, Apa Saja?

Fenomena
BPOM: Pfizer dan AstraZeneca Sudah Bisa untuk Booster Vaksin Covid-19 Jenis Lain

BPOM: Pfizer dan AstraZeneca Sudah Bisa untuk Booster Vaksin Covid-19 Jenis Lain

Oh Begitu
Cuaca di Indonesia: Potensi Curah Hujan pada 19-24 Januari 2022

Cuaca di Indonesia: Potensi Curah Hujan pada 19-24 Januari 2022

Fenomena
Gempa Megathrust Selat Sunda Bisa Memicu Gelombang Tsunami, Ini Saran Mitigasi Menurut Ahli

Gempa Megathrust Selat Sunda Bisa Memicu Gelombang Tsunami, Ini Saran Mitigasi Menurut Ahli

Fenomena
Penjelasan Ilmiah Mengapa Gempa Dapat Mengakibatkan Tsunami

Penjelasan Ilmiah Mengapa Gempa Dapat Mengakibatkan Tsunami

Fenomena
Gempa Bumi: Penyebab, Jenis, Karakteristik, hingga Dampaknya

Gempa Bumi: Penyebab, Jenis, Karakteristik, hingga Dampaknya

Oh Begitu
2 Kematian Flu Burung H5N6 Dilaporkan China, 3 Pasien Dirawat Intensif

2 Kematian Flu Burung H5N6 Dilaporkan China, 3 Pasien Dirawat Intensif

Fenomena
Cara Cek dan Download Sertifikat Vaksin Booster di PeduliLindungi

Cara Cek dan Download Sertifikat Vaksin Booster di PeduliLindungi

Oh Begitu
Ahli Peringatkan Kepunahan Massal Keenam Sedang Berlangsung di Bumi

Ahli Peringatkan Kepunahan Massal Keenam Sedang Berlangsung di Bumi

Fenomena
Usai Matahari, China Bakal Bikin Bulan Tiruan

Usai Matahari, China Bakal Bikin Bulan Tiruan

Oh Begitu
Analisis Ulang Ungkap Dinosurus Lapis Baja Bergerak Lambat dan Tak Bisa Mendengar

Analisis Ulang Ungkap Dinosurus Lapis Baja Bergerak Lambat dan Tak Bisa Mendengar

Oh Begitu
Inti Dalam Bumi Lebih Cepat Mendingin, Apa Dampaknya?

Inti Dalam Bumi Lebih Cepat Mendingin, Apa Dampaknya?

Fenomena
[POPULER SAINS]: Kunci Penting Menurunkan Berat Badan | Peringatan Tsunami Tonga Dicabut | Riset Vaksin Booster

[POPULER SAINS]: Kunci Penting Menurunkan Berat Badan | Peringatan Tsunami Tonga Dicabut | Riset Vaksin Booster

Oh Begitu
Gurita Paling Langka Ini Menampakkan Diri di Great Barrier Reef

Gurita Paling Langka Ini Menampakkan Diri di Great Barrier Reef

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.