Kompas.com - 19/11/2017, 20:18 WIB
Ratusan mahasiswa Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), sambil mengenakan pakaian adat, sedang mengikuti seminar tentang resistensi antimikroba Kompas.com/Sigiranus Marutho BereRatusan mahasiswa Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), sambil mengenakan pakaian adat, sedang mengikuti seminar tentang resistensi antimikroba
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KUPANG, KOMPAS.com - Peningkatan resistensi antibiotik (AMR) pada hewan di berbagai negara berpotensi menjadi pembunuh nomor satu di dunia pada tahun 2050.

Kondisi itu diperparah dengan lambannya laju penemuan dan pengembangan antibiotik baru dari bakteri yang menjadi resisten.

Resistensi terjadi akibat kelalaian dalam penggunaan obat, seperti tidak tepatnya pemakaian dan juga dosis.

"Kita tidak punya pilihan terhadap antibiotik yang akan digunakan untuk bisa menyehatkan hewan dan masyarakat, sehingga biaya pengobatan semakin mahal."

"Prediksi para ahli di dunia, kalau seandainya tidak ada upaya global untuk ikut mengendalikan resistensi ini, maka di tahun 2050, resistensi antibiotik akan menjadi pembunuh nomor satu di dunia."

Diperkirakan sekitar 10 juta orang di dunia, meninggal setiap tahunnya akibat resistensi ini.

Baca Juga : Kontroversial, Dokter Inggris Beri Saran untuk Tak Habiskan Antibiotik

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Uraian itu disampaikan Kepala Seksi Monitoring dan Surveilans, Dirjen Kesehatan Masyarakat Veteriner, Kementerian Pertanian, dokter hewan Imran Suandy.

Dia berbicara di sela-sela seminar bertajuk 'Penggunaan Obat Hewan Secara Tepat dan Benar Menuju Manusya Mriga Satwa Sewaka.

Manusya Mriga Satwa Sewaka artinya adalah mengabdi untuk kesejahteraan manusia melalui dunia hewan. 

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.