Dari Sudut Pandang Ilmiah, Inilah Kenapa Orang Indonesia Suka Kerokan

Kompas.com - 17/11/2017, 08:09 WIB
Ilustrasi wisawa222Ilustrasi
EditorShierine Wangsa Wibawa

Oleh Johanna Debora Imelda*

KOMPAS.com -- Ketika pelayanan medis menjadi barang komoditas, orang akan beralih ke pengobatan tradisional atau alternatif untuk kesembuhannya. Inilah salah satu alasan mengapa orang melakukan kerokan sebelum memutuskan berobat ke dokter.

Kerokan populer di negara-negara Asia, tetapi tidak banyak dikenal di benua lain. Bahkan praktik ini tidak ikut berasimilasi walaupun banyak orang Asia bermigrasi ke negara lain. Di Vietnam dan Kamboja kerokan dikenal dengan nama cao gio, sementara dalam bahasa Cina disebut gua sha.

Kerokan dan masuk angin

Kerokan termasuk terapi yang dermabrasive (merusak kulit) untuk menyembuhkan gejala masuk angin, seperti mual, kehilangan nafsu makan, sakit kepala, dan pusing. Gejala masuk angin ini biasanya timbul saat tubuh terganggu oleh udara dingin yang menyempitkan pembuluh darah dan membatasi asupan oksigen di kulit.

Terkadang, reaksi ini hanya terjadi di beberapa bagian tubuh yang spesifik seperti leher dan bagian belakang tubuh. Kerokan berguna untuk memanaskan tubuh dengan menggosok/mengerok bagian tubuh yang terasa dingin.

Kulit yang digosok akan terbuka dan menghasilkan tanda merah karena pembuluh darah di bawahnya rusak. Namun, reaksi ini memungkinkan kulit untuk menerima lebih banyak oksigen dalam pembuluh darah untuk kemudian menetralkan zat beracun yang ada di dalam tubuh.

Kenyataannya, kerokan bukanlah cara yang efektif meningkatkan panas tubuh dibandingkan dengan misalnya minum air hangat atau ramuan herbal seperti air jahe. Namun, rasa nyaman sehabis kerokan membuat orang ketagihan melakukan kerokan setiap kali merasakan gejala masuk angin.

Umumnya kerokan diaplikasikan di bagian punggung yang dipercaya memiliki 365 titik akupuntur. Apabila dilakukan dengan tekanan yang tepat di titik-titik tersebut, kerokan mempengaruhi sistem syaraf yang akan memerintahkan otak untuk memproduksi hormon endorfin sebagai reaksi tubuh untuk menahan rasa sakit dengan memberikan sensasi relaksasi.

Rasa nyaman ini membuat si penderita bisa tidur nyenyak dan merasa lebih segar setelahnya. Daya tahan tubuh penderita akan meningkat dengan sendirinya setelah tubuh istirahat dengan tidur yang cukup.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X