Kompas.com - 11/11/2017, 20:32 WIB
|
EditorResa Eka Ayu Sartika

JAKARTA, KOMPAS.com – Penyakit kanker berhasil mencatatkan diri sebagai penyebab utama kematian di dunia. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan menyebutkan, pada tahun 2012 terdapat sekitar 8,2 juta kematian akibat kanker.

Dalam konteks Indonesia, jumlah ini tak sedikit. Prevalensi kanker berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013 Kemenkes mencapai 347.792 orang. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menempati urutan pertama diantara semua provinsi, yakni sebear 4,1 persen.

Sayangnya, pengidap kanker datang ke rumah sakit saat kondisnya masuk pada stadium tinggi. Dalam kondisi ini, kemungkinan sembuh sulit terjadi. Maka, edukasi tentang deteksi dini kanker menjadi penting untuk meningkatkan harapan hidup dan menurunkan beban sosio-ekonomi.

Berangkat dari fenomena itu, peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Nurul Aisyiyah Jenie mengembangkan penelitian untuk membuat perangkat pendeteksi adanya sel kanker di dalam tubuh.

Baca juga: Suatu Saat, Kanker Mungkin Bisa Diobati dengan Kunyit

“Ke depannya akan dibentuk alat yang bisa dipakai masyarakat awam untuk deteksi dini kanker stadium satu atau stadium dua,” kata Siti di komplek Kemenristek Dikti, Jakarta, Kamis (9/11/2017).

Siti menggunakan nanopartikel dari silika alam yang diambil dari Pembangkit Listrik Tenaga Geothermal (PLTG) Dieng. Ketersediannya cukup mudah didapatkan.

Silika nanopartikel dimodifikasi menjadi fluoresens (pancaran sinar dari suatu zat) silika nanopartikel. Kemudian, zat itu dikombinasikan dengan biomolekul yang dapat mengikat sel kanker. Menurut Siti, jika terdapat pertumbuhan sel kanker, terdapat kenaikan konsentrasi hormon tertentu.

Nantinya, alat deteksi kanker tak perlu dimasukkan ke dalam tubuh. Langkah deteksi sel kanker dilakukan dengan meletakkan sampel tubuh, seperti darah, keringat, atau urin yang diletakkan di atas nanopartikel. Jika sel kanker terdeteksi, nanopartikel silika akan bercahaya yang mengharuskan pemeriksan lebih kompleks ke rumah sakit.

Bioimaging-nya itu harus sensitif dan selektif. Sensitif dengan fluorosens, selektif hanya berlaku pada sel kanker tertentu karena sifat kanker itu lain-lain. Tantangannya disitu. Sekarang sedang diteliti,” kata Siti.

Dalam proses penelitiannya, Siti bekerjasama dengan berbagai pihak. Antara lain dengan Teknik Kimia Universitas Gajah Mada untuk memproses mineral, serta Pusat Penelitian Metrologi LIPI untuk uji deteksi.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.