Kompas.com - 11/11/2017, 19:02 WIB
|
EditorResa Eka Ayu Sartika

KOMPAS.comAlien masih menjadi misteri bagi banyak kalangan, mulai dari ilmuwan hingga pemerintah negara. Namun, hampir bisa dipastikan Indonesia tak akan menjadi negara pertama yang menjumpai alien. Saat ini, kita belum punya alat memadai untuk berkomunikasi dengan makhluk luar angkasa.

Dalam hal bertemu alien, negara yang bisa dibilang cukup beruntung adalah China. Mereka punya teleskop radio terbesar di dunia yang telah mengalahkan besarnya teleskop Arecibo di Puerto Rico. Dengan teleskop yang bernama teleskop Sperikal Apertus lima ratus (FAST), China bisa mendapatkan energi elektromagnetik dari luas angka.

Pembangunan FAST ini sendiri selesai pada tahun 2016. Lalu, pada Agustus 2017, pemerintah China tak tangung-tanggung menawarkan hibah sebesar 1,9 juta dolar AS (Rp. 25,5 miliar) bagi yang mau menjadi direktur utama operasi ilmiah.

Baca juga: Jika Kita Tak Sendiri, Bagaimanakah Rupa Alien?

Sebetulnya, kita tak perlu heran melihat China menjadi pencari alien. Ross Andersen, dalam tulisannya di The Atlantik edisi Desember mengatakan, usaha pemerintah China (mencari alien) telah berlangsung sejak lama. Setidaknya sejak tahun 1980an melalui investasi besar dalam penelitian ilmiah.

Seperti dikutip Newsweek pada Kamis (9/11/2017), hingga tahun 2020, pemerintah negeri tirai bambu akan mengucurkan dana untuk penelitian dan pengembangan sebesar 1,2 triliun dolar Amerika Serikat.

Alokasi sebesar 2,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) itu termaktub dalam rencana lima tahun China ke-13 yang berlaku sejak Maret 2016. Menariknya, salah satu prioritas pengeluaran ilmu pengetahuan itu digunakan untuk eksplorasi ruang angkasa.

Memiliki satu teleskop FAST juga tak membuat China puas. Mereka berencana membangun kembali teleskop elektromagnetik serupa dan menempatkannya di sisi gelap bulan.

Selain China, pemerintah Amerika Serikat sebelumnya punya program Pencarian Kecerdasan di Luar Bumi (SETI). Untuk hal ini, Pemerintah Amerika Serikat menggunakan teleskop Arecibo. Sayangnya, saat ini teleskop itu mengalami kerusakan ringan akibat badai maria.

Tak hanya pemerintah, pencarian alien juga dilakukan oleh kalangan ilmuwan. Contonya saja Universitas California, Barkeley, Amerika Serikat yang juga turut berperan dengan program SETI@home. Dalam proyek ini, mereka mengundang individu menyumbangkan kemampuan komputasi untuk membantu para ilmuwan menganalisis data.

Di samping itu, ada pula kelompok ilmuwan yang mengambil fokus tentang apa yang harus kita (manusia) harus ucapkan saat pertama kali bertemu alien. Kesalahan dalam menyapa mungkin saja membuat tetangga asing manusia itu marah.

Baca juga: Bola Cahaya Terlihat di Langit Siberia, Benarkah Kapal Alien?

Halaman:


Video Pilihan

Sumber Newsweek
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.